Air Mata Penyesalan Seorang Suami, Ngaku Tak Sadar Saat Bunuh Istri

Hukum  RABU, 24 FEBRUARI 2021 , 19:39:00 WIB | LAPORAN: ALEXANDER

Air Mata Penyesalan Seorang Suami, Ngaku Tak Sadar Saat Bunuh Istri

Tersangka saat digiring petugas saat menggelar jumpa pers di Mapolres Lebong/RMOLBengkulu

RMOLBengkulu. Yoba Ricardo alias Ibong  (33) Warga Air Meles Bawah Kecamatan Curup Timur Kabupaten Rejang Lebong, kini harus mendekam dibalik jeruji besi dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara, akibat perbuatanya yang menghilangkan nyawa istrinya yakni DF (30).
Bahtera rumah tangga selama beberapa tahun yang diarungi pelaku bersama korban, kini tinggal kenangan.

Ibong yang sudah memiliki dua orang anak dari hasil pernikahannya dengan DF, kini harus menerima kenyataan bahwa luapan emosinya yang tak terkendali itu hanya menyisakan penyesalan mendalam dan derai air mata.

Bertempat di Mapolres Lebong, Rabu (24/2) sekitar pukul 14.05 WIB, Polres Lebong, mengadakan gelar kasus pembunuhan tersebut.

Saat itulah, awak media berkesempatan berbincang singkat dengan Ibong. Meski tidak memiliki waktu yang banyak, namun Ibong secara lugas menceritakan asbab pembunuhan itu.

Berperawakan pemuda kebanyakan, Ibong tampak penuh wajah penyesalan. Raut wajahnya tampak berurai air mata.

Mengenakan masker bewarna hitam ia memancarkan kesalahan dari perbuatan yang telah ia lakukan.

Ia dikawal selangkah demi selangkah oleh dua petugas kepolisian dengan senjata laras panjang. Lengkap dengan kedua tangan diborgol.

Tenang, meski di hadapannya sejumlah Barang Bukti (BB) dihadirkan sangat memberatkannya. Mulai dari tirai gordeng warna pink. Kain gendong yang digunakan untuk gantungkan korban.

Kemudian, baju lengan pendek warna biru, satu lembar celana panjang warna biru, satu kursi warna pink, dan 2 unit handphone milik pelaku dan korban.

Kepada awak media, pria yang diketahui honor di Dinas DPM-PTSP Lebong tersebut mengaku khilaf dan menyesali perbuatan telah melakukan pembunuhan tersebut.

"Menyesal pak. Benar-benar menyesal pak," kata Ibong yang menggunakan kaos bewarna hijau ini kepada wartawan dalam jumpa pers, Rabu (24/2) siang.

Apa yang dilakukan oleh pria kelahiran 22 Februari 1988 ini dalam keadaan tidak sadar. Sebab, saat ditanyai wartawan ia menyebutkan bingung atas perbuatannya tersebut.

"Ngak tahu lagi bang," sambungnya sembari menangis penuh penyesalan.

Ia juga meminta maaf kepada keluarga korban dan masyarakat Lebong.

"Aku minta maaf kepada keluargonyo segalonyo (semua keluarga). Aku benar-benar menyesal. Dak nyangko jadi ck ini (tidak menyangka jadi seperti ini). Tidak ado keinginan aku ck ini pak (tidak ada niat aku jadi seperti ini pak)," tutupnya.

Sempat Direkayasa, Polisi Berhasil Ungkap Kasus Pembunuhan Dalam Seminggu

Pada kesempatan itu, kepolisian menggelar jumpa pers di Mapolres Lebong, pada Rabu (24/2) siang. Hadir dalam pertemuan itu Kapolres Lebong, AKBP Ichsan Nur didampingi Kapolsek Lebong Utara Polres, AKP Lunardi Naibaho dan Kanit Reskrim Polsek Lebong Utara, Iptu Hasiholan Simanungkalit.

Kapolres menjelaskan, peristiwa mengenaskan itu terjadi pada Jum'at (12/2) lalu sekitar pukul 13.00 WIB di Desa Nangai Tayau Kecamatan Amen.

Kejadian berawal pada saat korban menyuapi anaknya yang rewel tidak mau makan, kemudian dimarahi oleh korban.

Melihat itu, pelaku marah dan mengatakan jangan 'cak itu nian marahi anak itu malu didengar orang''. Lalu, teguran itu direspon korban sembari mengatakan 'pacaklah aku, cak ikolah aku dak ado urusannya kek orang'.

Suasana semakin memanas, setelah korban berdiri membanting piring ke arah suami korban dan mengenai kaki kanannya. Tak terima itu, pelaku langsung meninju dada korban sebelah kanan hingga termundur dan jatuh.

Selanjutnya, pelaku mengambil anaknya sambil menimang-nimang hingga tertidur. Korban dalam keadaan terjatuh tadi masih kesal sembari menyebut nama mantan istri pelaku.

Hanya saja, Ibong tak menghiraukan ocehan korban tersebut. Korban yang masih kesal dengan perbuatan pelaku ingin membalas dengan memukul dada suaminya sambil berusaha mencakar, namun tak berhasil.

Lalu, pelaku mengamuk dan mendorong korban hingga terjatuh sembari memilih keluar. Tak sampai disitu, korban pun kembali berdiri dan mengejar pelaku.

Namun, peristiwa pembunuhan ini terjadi saat sang suami korban langsung menarik tirai gorden yang terpasang di pintu serta menekan dan menarik tirai tersebut di leher korban.

Sekitar satu menit korban batuk-batuk hingga lemas tidak bergerak lagi. Melihat tersebut, suaminya panik dan mengambil kain selendang yang ada di dalam kamar dan melilitkannya di leher korban, serta mengikatnya di kusen pintu yang seolah olah istrinya korban bunuh diri.

Sebelumnya korban dilaporkan meninggal dunia akibat bunuh diri. Petugas kepolisian mendapati ada hal yang janggal, dan langsung melakukan penyelidikan oleh tim dari Polsek Lebong Utara diback-up Polres. Beruntung, kasus itu berhasil terungkap selama tujuh hari.

"Itu (penyelidikan) memakan waktu tujuh hari. Kami pada hari selasa berkoordinasi dengan dokter forensik Curup. Berdasarkan penjelasan dokter sebelah pipi kanan ada lebam, itu terjadi sebelum meninggal. Berdasarkan bukti itu kita dalami dan saran dokter harus diotopsi," jelasnya.

Berbekal dukungan keluarga korban, tim Polsek Lebong Utata dan Polres Lebong melakukan otopsi.

"Setelah dilakukan otopsi, sangat jelas memar pada tubuh korban. Yang mengejutkan lagi, jejas di leher itu ada dua. Yang kebelakang dan yang keatas. Yang di  belakang itu mematikan, dan yang keatas pura-pura digantung," bebernya.

Dia mengakui, pelaku sempat ingin mengelabui petugas. Salah satunya, dengan memberikan keterangan palsu. Namun, setelah dilakukan olah tempat kejadian perkara, keterangan saksi, hasil visum serta hasil otopsi yang didapati penyidik, akhirnya Ibong mengakui telah melakukan pembunuhan terhadap istrinya.

"Dia ingin menciptakan alibi. Mulai dari gantung korban biar seperti bunuh diri, dan membuat rekayasa percakapan antara handphone milik korban dan pelaku. Termasuk menghubungi anggota kita setelah kejadian," ucapnya.

Kapolres: Motif Dari Awal Pernikahan Sudah Ada Masalah

Kapolres menjelaskan, cekcok mulut antara korban dan pelaku pada saat kejadian adalah puncaknya. Penyidik memastikan sejak awal pernikahan antara pelaku dan korban sudah dirunut masalah. Itupun karena pelaku menikahi dua orang gadis.

"Kalau ditanya apa motif. Dari awal motifnya pernikahan sudah ada masalah," ungkapnya.

Namun, hubungan rumah tangga korban yang berstatus ASN itu bertahan. Sedangkan, dengan perempuan lain sudah bercerai. Penegasan itu disampaikan Kapolres usai mantan istri pelaku itu turut juga diperiksa penyidik.

"Kebetulan beliau (pelaku) ini menikah sekaligus dua orang gadis. Satu dicerai, satu dilanjutkan. Jadi, di awal pernikahan sudah ada permasalahan. Inilah yang membuat hari-hari cekcok terus sampai hari h kejadian," ungkapnya.

Ia meminta pelaku harus menerima kenyataan serta menjalani proses hukum yang berlaku.

"Pelaku dijerat dengan pasal 44 ayat (3) undang undang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) nomor 23 tahun 2004 dan atau pasal 338 KUHP dengan ancaman 15 tahun penjara," bebernya.

Kapolres juga menyampaikan, kejadian ini menjadi pelajaran semua pihak. Menurutnya, semua orang ada masalah dan ada persoalan. Sehingga harus tetap bersabar serta jangan melakukan hal tidak baik.

"Ini poin semua jadi pelajaran bagi kita semua disini. Emosi itu setan. Kalau Rasulullah sudah mengajarkan kalau sudah emosi, tinggalkan tempat itu untuk menghilangkan emosi. Emosi sekecil apapun  adalah setan," tutupnya. [tmc]


Komentar Pembaca
Kabinet Amerika

Kabinet Amerika

JUM'AT, 02 APRIL 2021 , 09:57:00

MILAD IMM Ke-57, Dimulai Dengan Pertandingan Futsal Persahabatan
Diduga Serpihan Pesawat Sriwijaya SJ182

Diduga Serpihan Pesawat Sriwijaya SJ182

SABTU, 09 JANUARI 2021 , 18:27:00