Di RSUD Anggaran Disusun Membengkak Hingga Rp 11,6 Miliar

Alasan Antisipasi Covid-19

Daerah  SENIN, 28 SEPTEMBER 2020 , 07:31:00 WIB | LAPORAN: ALEXANDER

Di RSUD Anggaran Disusun Membengkak Hingga Rp 11,6 Miliar

Ari Afriawan/Ist

RMOLBengkulu. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Pemkab Lebong Tahun Anggaran (TA) 2020 dalam keadaan tidak stabil alias jeblok.
Kabar defisit anggaran yang melanda APBD Lebong tahun anggaran berjalan, nyatanya tidak terlalu berpengaruh pada aktivitas belanja di sisa periode Bupati Lebong, Rosjonsyah ini.

Teranyar, Badan Anggaran (Banggar) DPRD Lebong berencana mengesahkan APBD Perubahan 2020. Sebelumnya, Banggar bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) telah melakukan penandatanganan nota kesepahaman kebijakan umum anggaran plafon prioritas anggaran sementara (KUA-PPAS).

Hasilnya, ada beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang anggarannya bertambah. Ada pula berkurang signifikan dari total pagu sebelumnya.

Menariknya, jumlah anggaran di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lebong justru bertambah signifikan pada rancangan APBD Perubahan tahun ini.

Hal itu berdasarkan data yang berhasil dihimpun wartawan RMOLBengkulu di lapangan. Dimana ada penambahan sekitar Rp 11,6 Miliar dari total pagu sebelum perubahan.

Sebelumnya pagu anggaran sekitar Rp 26,5 Miliar. Namun, dalam draf perubahan menjadi sekitar Rp 38,1 Miliar.

Penulusuran wartawan, membengkaknya anggaran itu diperuntukkan untuk urusan pengadaan alat-alat kesehatan rumah sakit yang sebelumnya diplotkan sebesar Rp 5.557.038.000 berubah menjadi Rp 10.553.568.000. Atau ada penambahan sekitar Rp 4,9 Miliar.

Kemudian, pengadaan obat-obatan rumah sakit yang diplotkan sebesar Rp 5.193.580.000, serta kemitraan asuransi kesehatan masyarakat yang sebelumnya Rp 2.720.900.000 berubah menjadi Rp 5.220.900.000. Atau bertambah sebesar Rp 2.500.000.000.

Ketua TAPD Lebong, Mustarani yang juga Sekda Lebong belum berhasil dikonfirmasi. Termasuk Sekretaris TAPD, Erik Rosadi turut juga belum memberikan keterangan resmi. Namun, Dirut RSUD Lebong, dr Ari Afriawan berhasil diminta keterangan.

Kepada wartawan, ia menjelaskan, dalam rancangan APBD Perubahan pihaknya mengusulkan tambahan insentif dokter spesialis, dan dana obat untuk tahun 2020.

"Karena tahun ini kami hanya dapat anggaran obat sebesar Rp 500 juta," kata Ari melalui pesan elektronik.

Dia mengaku, kucuran dana tambahan itu bersumber dari Dana Insentif Daerah (DID) yang didapatkan Pemkab Lebong, belum lama ini.

Dia menyatakan, anggaran itu sebagai antisipasi penanganan Covid-19 di daerah itu. Ia khawatir pasca Pilkada 2020 nanti ada ditemukan kasus. Meskipun saat ini status Lebong masih zona hijau.

"Karena kami kemaren mengusulkan alat kesehatan untuk ruang bertekanan negatif dan tambahan Obat dan BMHP untuk logistik farmasi RS. Debab siapa yang bisa memprediksi ada atau tidaknya lonjakan kasus covid pasca Pilkada nanti," bebernya.

Tak hanya itu, ia juga menerangkan, kenapa anggaran kemitraan asuransi kesehatan masyarakat bertambah Rp 2,5 Miliar.

Versinya, anggaran kemitraan asuransi itu sebuah estimasi pendapatan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Sebab, di tahun 2020 ini RSUD hanya dianggarkan 1,5 miliar. Sedangkan estimasi pendapatan BLUD itu kurang lebih Rp 5 Miliar.

"Jadi kami tidak bisa lagi menarik dana jika ada klaim masuk sebab sudah melebih plafon anggaran. Tapi dana ini belum ada, karena masih estimasi sesuai dengan pendapatan RSUD," bebernya.

Lebih jauh, ia berpendapat jika harga alat-alat kesehatan bisa saja naik selama pandemi Covid-19. Oleh karenanya, kucuran dana fantastis itu menurutnya wajar.

"Tidak ada yang tahu kalau belanja RS khusus untuk masker, sarung tangan, hand sanitizer jumlahnya membengkak karena harganya melambung tinggi pada saat pandemi ini," ungkapnya.

Menurutnya, penambahan itu semua sesuai dengan kebutuhan. Bahkan, penambahan itu menurutnya sangat mendesak di tengah pandemi Covid-19.

"Kami sangat bersyukur pemerintah memperhatikan sektor kesehatan. Apalagi sampai saat ini rumah sakit kita masih memegang SK sebagai RS rujukan Covid-19. Jadi mau tidak mau harus terus berbenah baik dari segi ketersedian SDM, alkes dan farmasi," demikian Ari. [tmc]


Komentar Pembaca