Tak Punya Smartphone, Kisah Anak Panti Asuhan Rela Antre Belajar

Pendidikan  KAMIS, 03 SEPTEMBER 2020 , 19:16:00 WIB | LAPORAN: ALEXANDER

Tak Punya Smartphone, Kisah Anak Panti Asuhan Rela Antre Belajar

Abdur Rizjulillalamin bersama anak panti lainnya saat belajar menggunakan smartphone milik pengasuh/RMOLBengkulu

RMOLBengkulu. Terik matahari sangat menyengat di ruas jalan Desa Air Kopras Kecamatan Pinang Belapis Kabupaten Lebong menuju Panti Asuhan Qorrota A'Yun.
Tidak jauh jaraknya untuk tiba di panti asuhan ini. Untuk menuju gang panti, jaraknya sekitar 3 kilometer atau 20 menit menggunakan kendaraan roda dua dari Pasar Muara Aman Kabupaten Lebong.

Dari luar gang terlihat sepi, sekalipun tidak ada aktivitas apapun. Aktivitas baru tampak masuk gang kurang lebih 100 meter dari jalan utama desa setempat.

Gang tersebut hanya bisa dilalui satu kendaraan roda empat. Kondisinya belum tersentuh aspal dan bertebing.  Jika terdapat kendaraan roda empat dari arah berlawanan, salah satunya harus mengalah.

Panti Asuhan Qorrota A'Yun, memiliki tempat pengasuhan anak-anak yatim dan duafa. Menjelang sore, barulah terlihat anak panti yang mulai beraktivitas diluar ruangan.

Sebagian anak-anak asyik bermain di teras. Sedangkan lainnya, mengaji di salah satu pondok. Anak-anak perempuan lainnya, sibuk menjemur pakaian yang baru saja usai dicuci, dijemuran.

Gambaran seperti itu, anak-anak bermain di teras, belajar bersama di dalam kamar bersama-sama, serta jemur pakaian saat matahari mulai naik, sudah terjadi sejak tiga bulan terakhir.

"Senang pastinya. Ini sudah jadi rutinitas kita," ujar Abdur Rizjulillalamin, bocah 15 tahun yang diminta keterangan di lokasi, Sabtu (29/8) lalu.


Manfaatkan Satu Handphone Milik Pengasuh

Rutinitas bersama itu memang sudah biasa dilakukan Abdur dan puluhan anak yatim di panti asuhan itu.

Tetapi, mereka merasakan hal berbeda dari biasanya. Terutama sejak mewabahnya Covid-19.

Sebuah kebersamaan yang dilingkupi kebahagiaan, canda tawa dan rasa syukur segenap hilang.

Terutama ketika sekolah asalnya, yakni SMPN 03 Pinang Belapis menghentikan kegiatan belajar mengajar tatap muka.

Sebab, bocah yang selalu mendapat peringkat keempat ini diharuskan melek teknologi. Menyusul, sekolah memberlakukan kegiatan belajar mengajar secara daring atau online.

"Tugas kami diberikan (sekolah) melalui grup WA. Jadi, kalau ada tugas kami harus serahkan melalui internet," lanjutnya.

Bocah lugu itu tak tahu persis kapan ia mulai belajar secara daring di panti asuhan itu. Terasa sudah sangat lama atau mungkin sejak April 2020.

Kesulitan mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) lantaran tidak memiliki handphone (hp), Abdur terpaksa pilih mengikuti anjuran pengasuh.

Karena keinginan kuat anak-anak di panti itu untuk belajar, mereka pun mengandalkan smartphone milik pengasuh secara bergantian.

Akan tetapi, antrean mengunakan satu unit hp membuatnya cukup terganggu. Sebab, tugas yang diberikan sekolah kepada masing-masing teman kelompoknya berbeda.

"Sudah tiga bulan kayaknnya. Selama itu, kami dikasih tugas melalui HP pengasuh," ucapnya.

Tetapi ia tak banyak memperdulikan itu.

Ia mengaku merasakan kebahagiaan dan kehangatan hidup bersama anak-anak panti asuhan lainnya, juga para pengasuh yang ia anggap sebagai orangtuanya.

Di sana, ia sudah terlatih hidup mandiri. Meskipun mereka dirundung teknologi lantaran tidak memiliki hp maupun kuota internet.

Sedianya, belajar di rumah karena bisa dilakukan sembari istirahat. Tetapi, selama pembelajaran daring, dia mengaku kewalahan mengerjakan pekerjaan rumah. Terutama harus antre menggunakan hp.

"Kalau ada tugas pasti kita minta petunjuk dari pengasuh," ucapnya.

Abdur yang saat ini duduk di bangku kelas 3 SMP, mengaku mulai rindu dengan suasana belajar di sekolah dan menerima langsung pelajaran dari gurunya di kelas. Ada rasa jenuh yang dirasakannya selama tiga bulan belajar di rumah.

"Kangen pastinya. Kalau di sekolah kan kita langsung guru mengajar. Selain itu, tidak ada lagi canda tawa dari teman-teman. Padahal, pada hari biasa pasti ada cerita baru dari teman-temanku di sekolah," tuturnya.

Biasanya setiap hari, ia bangun tidur pukul 03.00 WIB. Selanjutnya, ia menjalankan shalat tahajud, tadarus kemudian shalat subuh berjamaah. Paginya, ia bersekolah.

"Kalau bangun tidur pagi, sudah tidak perlu dibangunin lagi. Karena memang sudah terbiasa bangun jam segitu. Kalau sekolah diantar langsung pengasuh," imbuhnya.

Dia menuturkan, selain belajar di rumah, Abdur mengaku selama ini mengisi waktunya selama di panti dengan menulis.

Dalam tulisannya tersebut, Abdur membubuhkan tulisan tentang pentingnya social distancing untuk menjaga penularan virus corona yang menyebabkan penyakit virus asal Wuhan itu.

"Sekarang, sudah dibolehkan masuk sekolah tapi tetap harus rajin cuci tangan, jaga jarak, pakai masker, dan tetap jaga kesehatan," pungkasnya.


Total 25 Anak Panti

Sementara itu, Pemimpin Panti Asuhan Qorrota A'Yun, Muhammad Yudhi (30) menceritakan, ada 25 anak menghuni Panti Asuhan Qorrota A'Yun.

Dari 25 anak penghuni Panti Asuhan, perinciannya 5 anak bersekolah milik yayasan, 2 anak di SD N 11, satu anak di sekolah MID, 3 anak di MTS, dan 1 anak MAN 2. Sedangkan, sisanya 13 anak menempuh pendidikan di SMPN 03.

Hingga kini, SD masih diliburkan hingga 31 Agustus dari aktivitas belajar-mengajar. Sedangkan, jenjang SMP sudah masuk sekolah sejak 23 Agustus lalu.

Penghuni panti terpaksa mengikuti proses belajar dari panti asuhan

"Anak-anak memanfaatkan dua handphone milik pengasuh. Jadi dibagi dua grup, satu grup khusus kelompok putra, dan satu khusus untuk kelompok putri," ujarnya.

Dalam bimbingan belajar, para pengasuh tidak hanya mengulas pelajaran yang diberikan sekolah, tetapi ditanamkan motivasi dan kepercayaan diri agar tekanan mental bertambah.

"Tidak hanya berbekal tugas, persiapan mental dan spiritual anak asuh sangat penting dalam menentukan kelulusan serta keberhasilan dalam belajar, hal ini yang pengasuh terus tanamkan," jelasnya.

Dia menyatakan, selama menempuh pendidikan seluruh biaya sekolah anak panti tetap dibayarkan meskipun ada keringanan dari pihak sekolah.

"Biaya semuanya dari panti. Bedanya, kalau dari pihak sekolah memberi keringanan. Utamanya untuk biaya-biaya tertentu," bebernya.

Mereka diberikan pemahaman tentang pentingnya pendidikan. Syukurnya, mereka paham dan tergerak untuk mengisi diri dan memahami ilmu pengetahuan itu.

Menurutnya, ijazah suatu jaminan bagi generasi penerus apabila ingin mewujudkan mimpinya di masa depan.

"Karena di negara kita ini pintar jadi percuma kalau tanpa legalitas (ijazah) karena menyulitkan mereka di kemudian hari. Jadi kita ingatkan pada anak-anak untuk terus belajar," imbuhnya.

Awalnya, kehidupan di panti asuhan biasa saja, meski virus corona baru atau Covid-19 telah mewabah.

Kondisi itu mulai berubah setelah adanya wabah tersebut. Panti asuhan yang biasa dikelola dirinya dan rekannya Efran Yanda tak lagi berjalanan sebagaimana mestinya.

Pengasuh panti asuhan mulai kesulitan karena kebutuhan panti asuhan bergantung kepada donatur berkurang.

"Kalau penghasilan mengandalkan swadaya masyarakat. Tapi untuk sembako tidak berkurang," jelasnya.

Dia bercerita, virus corona ini membuat beban biaya bulanan semakin membengkak. Kondisi ini diperparah lagi dengan tagihan listrik PLN semakin membengkak dan mencekik leher.

Ketika itu, ceritanya, dipicu pernyataan pemerintah, tagihan listrik akan diberi potongan. Ia coba bayar lewat dari tenggat waktu.

Namun, nyatanya PLN datang dan menagih aliran listrik seperti biasa, atau sebelum corona mendarat ke Indonesia.

Lebih jauh, ia menyebutkan selain beban listrik bertambah, makan dan minum bagi anak-anak yatim piatu serta tak mampu menghuni Panti Asuhan Al-Ilham, ikut membengkak.

Masa Covid-19 ini, pengelola harus memasak hingga 10 kilogram makanan harian.

Ia mengatakan, setiap bulannya panti asuhan harus mengeluarkan uang sedikitnya Rp 10 juta untuk biaya operasional tersebut.

Jumlah tersebut, selain makan dan minum, juga memenuhi kebutuhan lainnya. Antara lain, biaya listrik, operasional pengelolaan panti, dan sebagainya.

"Paling karena daring lebih banyak makan kuota internet dan tagihan listrik membengkak," ungkapnya

Ia mengatakan, kegiatan anak-anak di panti selama pandemi adalah membersihkan pekarangan, merawat tanaman, pengajian, dan belajar.

"Tidak ada perubahan, sama aktivitas juga sama," demikian Yudhi.


Mulai Terapkan Belajar Tatap Muka Dengan Protokol Kesehatan

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Lebong, memastikan sistem pembelajaran tatap muka di Kabupaten Lebong mulai diberlakukan.

Untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) mulai diberlakukan 24 Agustus lalu. Sedangkan, jenjang Sekolah Dasar (SD) pada tanggal 31 Agustus 2020 mendatang.

Edaran itu ditujukan kepada Korwil 1, 2 dan 3, Kepala SMP Se-kab Lebong, Kepala SD se-kab Lebong, Kepala TK, Paud se-kab Lebong, Kepala SPNF Kabupaten Lebong.

Namun, suasana kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka di Kabupaten Lebong akan sedikit berbeda dari sebelumnya. Menyusul akan dilakukan penyesuaian kebijakan pembelajaran di masa pandemi Covid-19.

Strategi-stretegi tersebut di antaranya sistem KBM yang akan dibagi dalam bentuk sif pagi dan siang. Kemudian pembatasan jumlah maksimal siswa dalam satu ruangan sebanyak 20 orang per kelas untuk menghindari kerumunan.

Kadis Dikbud Kabupaten Lebong, Guntur melalui Sekretaris Baheramsyah didampingi Kabid Pembinaan dan Pendidikan, Heri Arianto membenarkan perihal tersebut.

"Kebijakan itu atas dasar Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada tahun ajaran 2020-2021 di Masa Pandemi Covid-19," ujarnya, Kamis (27/8).

Meski sekolah jenjang SD dan SMP sudah diperbolehkan gelar tatap muka, kebijakan itu belum berlaku bagi satuan pendidikan Taman Kanak Kanak (TKK) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

"Khusus TK dan PAUD belum diperbolehkan sampai ada surat pemberitahuan berikutnya," bebernya.

Pembelanjaran tatap muka dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19. Kelas dibagi dengan sistem sif. Murid juga wajib menggunakan masker, rajij mencuci tangan pakai sabun, atau memakai hand sanitizer.

"Pengaturan sif diatur oleh satuan pendidikan masing-masing, dan pembagian siswa dengan shift tidak melebihi 20 siswa per ruang," tuturnya.


Masuk Sekolah Lagi, Abdur Senang Sekaligus Takut

Kembali ke sekolah adalah langkah terbaru dalam normalisasi kehidupan secara bertahap di daerah itu.

Sejauh ini, baru siswa SMP dan SD yang mulai bersekolah di Kabupaten Lebong. Itu karena mereka harus mempersiapkan diri mengikuti awal ajaran baru.

Sementara, untuk siswa jenjang TK dan Paud, belum ada pemberitahuan resmi dari pemerintah kapan mereka mulai bersekolah lagi.

"Senang bisa ketemu temen-temen lagi," ucapnya.

Dia mengaku takut sekaligus senang karena bisa masuk sekolah dan bertemu teman-teman.

Sebab, tidak semua siswa dalam kelas tersebut datang dalam satu waktu. Setiap kali pertemuan dibatasi beberapa siswa.

Ada sekolah yang menjadwalkan siswa datang ke sekolah pada hari dan jam tertentu. Sekolah membagi jam masuk siswa dua sif, yakni pagi dan siang. Jam belajar tatap muka di sekolah pun terbatas hanya beberapa jam.

Bahkan, tiap siswa dianjurkan pakai masker, sebelum masuk (area) sekolah dicek suhu tubuh, lalu kami diminta memakai hand sanitizer. Lalu diizinkan masuk kelas. Awal masuk dijelaskan soal corona, disuruh pakai masker terus, jaga jarak, dan rajin cuci tangan.

"Tapi ya takut karena virus corona," tutur dia. [tmc]




Komentar Pembaca
H. Zahdi Taher, M.HI Jabat Kepala Kemenag Prov Bengkulu
Komplek Perkantoran Pemkab Kaur Jauh Dari Kata Bersih
Kebakaran Hebat Melanda Dua Toko

Kebakaran Hebat Melanda Dua Toko

SABTU, 29 AGUSTUS 2020 , 22:30:00