Antisipasi Krisis Pangan, Lebong Launching Pupuk Dari Limbah Produksi Sendiri

Daerah  RABU, 01 JULI 2020 , 07:00:00 WIB | LAPORAN: ALEXANDER

Antisipasi Krisis Pangan, Lebong Launching Pupuk Dari Limbah Produksi Sendiri

Zamhari saat menyampaikan sambutan/Ist

RMOLBengkulu. Indonesia bisa mengalami kelangkaan pangan beberapa bulan kedepan, jika pandemik Covid-19 belum mereda sampai saat itu. Saat ini, stok pangan masih cukup tersedia hingga Juni 2020.

Data Kementan menyebutkan, ketersediaan beras produksi beras pada April hingga Juni 2020 mencapai sekitar 10,5 juta ton.

Menghadapi itu, Pemkab Lebong melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lebong melaunching pemanfaatan limbah produksi pertanian sebagai hasil kerjasama pengembangan pemulihan lingkungan hidup untuk mendukung ketahanan pangan dan antisipasi dampak pandemi Covid-19.

Kegiatan dipusatkan di areal persawahan Desa Tunggang, Kecamatan Lebong Utara, Selasa (30/6) kemarin sekitar pukul 13.05 WIB.

Kegiatan dihadiri Bupati Lebong, Rosjonsyah, Danramil Lebong Utara, Kapten Inf Lilik Yuniarso, Kapolres Lebong, AKBP Ichsan Nur, Kajari Lebong, Fadil Regan, Inspektur Inspektorat Daerah Kab. Lebong, Jauhari, Kepala DLH, Lebong, Zamhari, para Asisten, Camat Lebong Utara, serta Lurah dan Kades se-Lebong.

Dalam sambutannya, Kades Tunggang, Lotriana mengatakan, bahwa pihaknya sangat mendukung kegiatan ini, dimana pupuk kompos yang dibuat bersumber dari sisa hasil panen masyarakat, berupa kulit padi dan kulit kopi.

"Dengan adanya program ini bisa menghemat biaya untuk petani dan semoga ke depan petani  Lebong semakin maju," kata Lotriana, kemarin (30/6).

Sementara itu, Kepala DLH Kabupaten Lebong, Zamhari menambahkan, selama ini pupuk kompos di daerah itu belum dimanfaatkan secara maksimal.

"Untuk itu DLH mulai mengembangkan penggunaan pupuk kompos yang bersumber dari kulit padi dan kulit kopi untuk dimanfaatkan dalam kegiatan pertanian dan perkebunan," kata Zamhari.

Bukan tanpa alasan, versi Zamhari, program ini akan menghemat biaya petani sekalipun bisa mengurangi penumpukan sampah lantaran kulit padi dan kopi diolah kembali untuk penyuburan lahan pertanian dan perkebunan.

"Jika nanti sudah berjalan maka ada siklus konservasi yang berjalan seperti pada petani, masyarakat, pengusaha, investor dan sebagainya," tuturnya.

Selanjutnya, Bupati Lebong, Rosjonsyah menyatakan, dalam kondisi pandemi Covid-19 ini, meskipun Lebong berstatus zona hijau namun harus selalu mempersiapkan diri dalam rangka mengantisipasi dampak Covid-19, terutama dalam bidang sosial dan ekonomi.

"Limbah yang sebelumnya tidak termanfaatkan seperti kulit padi dan kulit kopi, sekarang bisa digunakan untuk pemupukan lahan pertanian dan perkebunan," terangnya.

Lebih jauh, saat ini di wilayah Lebong, terdapat beberapa lahan pertanian yang sudah melaksanakan tanam-panen 2 kali dalam setahun, namun demikian ada juga daerah yang masih 1 kali.

"Pemkab juga akan membuat Perda tentang pemanfaatan limbah untuk peningkatan pertanian dan desa-desa diharapkan menindaklanjutinya melalui realisasi program-program yang bernilai positif untuk pengembangan pertanian," tutupnya.

Pantauan di lokasi, seluruh hasil pertanian dari kompos limbah padi dan kopi tersebut ditampilkan. [tmc]



Komentar Pembaca
Senyum Prabowo Airlangga

Senyum Prabowo Airlangga

SELASA, 07 JULI 2020 , 08:15:00

Kepal Cegah Covid-19 RMOL Rescue

Kepal Cegah Covid-19 RMOL Rescue

SABTU, 04 APRIL 2020 , 17:43:00

China Kibarkan Bendera Setengah Tiang

China Kibarkan Bendera Setengah Tiang

SABTU, 04 APRIL 2020 , 07:39:00