Timbulkan Dampak Buruk, Galian Tambang Di Kaur Dipolisikan

Hukum  RABU, 03 JUNI 2020 , 15:50:00 WIB | LAPORAN: TRI YULIANTI IMRAN

Timbulkan Dampak Buruk,  Galian Tambang Di Kaur Dipolisikan

Penasehat Hukum, Ahmad Kabul/ RMOLBengkulu

RMOLBengkulu. Diduga timbulkan dampak buruk bagi warga Desa Pulau Panggung dan Desa Kepayang, di Kabupaten Kaur. Putra daerah Kabupaten Kaur,  Ahmad Kabul.  Rabu pagi (3/6) mendatangi Polda Bengkulu.  

Kedatangannya adalah untuk melakukan koordinasi bersama pihak kepolisian Polda Bengkulu dalam penyelesaian masalah aktivitas galian tambang yang diduga telah menimbulkan dampak buruk bagi masyarakat sekitar.

Dikatakan Ahmad Kabul, yang juga menjadi penasehat hukum bagi kedua desa terdampak tersebut, mengatakan bahwa aktivitas galian tambang yang dilakukan oleh CV.  Jaya Lestari dan Letra Lestari telah membawa dampak buruk bagi masyarakat terlebih lagi pada faktor perekonomian.

Ia mengatakan, aktivitas galian tambang yang dilakukan oleh kedua perusahan tersebut telah mematikan mata pencarian penduduk sekitar yang terkena dampak dari aktivitas tambang tersebut

"Akibat aktivitas galian tersebut banyak masyarakat yang terkena dampak. Awalnya mereka bisa bercocok tanam, akibat galian tambang ini mereka tidak bisa lagi bercocok tanam," kata Ahmad Kabul,  Rabu (3/6).

Sementara itu,  terkait kedatangannya ke Polda Bengkulu ialah untuk berkordinasi terkait perizinan pertambangan tersebut dan dalam waktu dekat akan segera membuat laporan secara resmi ke Polda Bengkulu.  

"Kita berkordinasi dengan Polda terkait masalah aktivitas galian tambang yang ada di Desa Pulau Panggung dan Desa Kepayang, Kabupaten Kaur," sambungnya.

Ia menambahkan,  berdasarkan data yang diterima dari kedua desa yang terdampak ini ada  sebanyak 100 orang. Dari 100 orang tersebut,  masing-masing dari mereka memiliki bidang sawah sebanyak 1 hektar.  

Dan dari data tersebut pula, dapat dihitung kerugian yang dialami masyarakat dengan adanya aktivitas galian tambang dari dua perusahan  tambang tersebut cukup besar.

Awalnya dalam setahun bisa 3 kali bercocok tanam padi  tapi setelah ada aktivitas tambang ini  mereka tidak bisa melakukan pekerjaan itu lagi.

"Aktivitas galian tambang tersebut sudah beroperasi kurang lebih 7 tahun. Jika dihitung dalam setahun bisa 3 kali berarti jika dalam waktu 7 tahun seharusnya sudah berapa kali mereka bercocok tanam," pungkas Ahmad.

Selain Polda Bengkulu,  upaya ini juga sudah dilakukan secara ke keluargaan tapi tidak ada tindak lanjut.  Sehingga kita memutuskan untuk tempuh jalur hukum.

"Sudah sering disampaikan oleh perangkat desa tapi tidak ada penyelesaian maka dari itu kita ke polda untuk melakukan kordinasi dan dalam waktu 2 hari akan membuat laporan," tutup Ahmad Kabul. [ogi]


Komentar Pembaca
Senyum Prabowo Airlangga

Senyum Prabowo Airlangga

SELASA, 07 JULI 2020 , 08:15:00

Kepal Cegah Covid-19 RMOL Rescue

Kepal Cegah Covid-19 RMOL Rescue

SABTU, 04 APRIL 2020 , 17:43:00

China Kibarkan Bendera Setengah Tiang

China Kibarkan Bendera Setengah Tiang

SABTU, 04 APRIL 2020 , 07:39:00