Pilu, Kisah Si Mala Yang Tidak Bisa Melihat Bantuan Covid-19

Nusantara  SABTU, 23 MEI 2020 , 09:24:00 WIB | LAPORAN: ALEXANDER

Pilu, Kisah Si Mala Yang Tidak Bisa Melihat Bantuan Covid-19

Min Amala Nisya duduk di dalam rumahnya di Desa Pungguk Pedaro, Kecamatan Bingin Kuning, Kabupaten Lebong, Kamis (21/5)/RMOLBengkulu

RMOLBengkulu. Peluh, tak kala 12 pemuda duduk di atas sepeda motor bebek. Sesekali mereka menyeka bulir keringat bercucuran dengan saputangan bututnya.

Kamis (21/5) pukul 12.20 WIB terasa hangat. Suhu udara membuat puasa di bulan suci ramadan kian menantang.

Rombongan yang beranggotakan lelaki dan perempuan itu menghentikan laju kendaraannya. Memarkirkan sepeda motor di bahu jalan.

Sejumlah pemuda itu berdiri, tepatnya di Desa Pungguk Pedaro Kecamatan Bingin Kuning, Kabupaten Lebong. Satu di antara mereka menuntun ke salah satu rumah.

Sebuah bangunan sederhana itu terlihat jelas dari tepi jalan. Sekilas, seperti saung petani di tengah sawah. Berukuran 3x3 meter, beralaskan serta berdinding kayu. Bahkan tak layak dihuni.

Begitu kotor. Di tempat itu, tidak ada televisi, tidak ada musik, tidak ada suara anak-anak tertawa. Keheningan yang sangat kontras dengan suasana Covid-19.

Di sebuah gubuk tua itu, ada sosok perempuan. Berambut putih tampak duduk santai di dalamnya. Mengenakan celana panjang bewarna coklat, dengan atasan kemeja orange berkotak-kotak.

Perasaan heran terselip di bibirnya yang keriput. Membuyarkan lamunannya ketika seseorang datang bertamu.

"Assalamualaikum, Nek."

Setelah salam yang ketiga, barulah ia menjawab.

"Waalaikum salam," jawabnya ketika bangun dari tempat tidur untuk mencari tahu sumber suara.

Rombongan pemuda tadi terlihat akrab dengannya. Sebab, satu di antara mereka masih memiliki hubungan keluarga.

"Ini nenek saya, namanya nenek Mala," ujar Nhesi (20) satu dari belasan pemuda tersebut.

Perempuan berusia 65 tahun itu nama lengkapnya Min Amala Nisya. Ia terheran-heran dengan kedatangan rombongan tersebut.

"Kalian nak ngapo datang kerumah sayo, ramai-ramai nih," tanya Mala panggilan akrab warga sekitar.

Setelah dijelaskan salah satu cucu dari sepupunya tersebut, ia tersenyum kemudian menawarkan tamunya masuk.

"Oh, silahkan masuk," sautnya tanpa basa basi lagi.

Ia duduk tepat di pintu rumah saat menceritakan kisahnya. Mala mulai bercerita, bahwasanya dirinya hidup sebatang kara.

Orang tuanya sudah meninggal dunia. Dan tetangga terdekatlah yang selalu datang melihat kondisinya.

Tidak ada siapa pun yang menemaninya, Mala yang sudah menginjak usia lebih dari setengah abad itu bahkan belum pernah menikah.

Sedari gadis, Mala tak pernah memilih perihal pekerjaan. Itupun setelah kehilangan pengelihatan sejak usia 18 tahun.

"Sejak kecil. Paling umur sekitar 18 tahun," ujar Mala sembari menceritakan yang masih lekat diingatannya, Kamis (21/5) lalu.

Ia menguraikan, dirinya mulai kehilangan penglihatan setelah diserang penyakit cacar. Akibat penyakit itu, hingga sekarang ia mengaku tidak pernah dilamar seorang laki-laki.

"Tidak ada momongan. Karena mata saya tidak ada lagi, jadi tidak ada yang mau," ungkapnya.

Rumah Mala yang ditempati saat ini merupakan peninggalan orang tua. Mala juga tinggal yang letaknya masih dalam satu pekarangan dengan anak dari sepupunya.

Terkadang Ia juga harus melawan rasa takut jika hujan deras. Sebab atap rumahnya sudah banyak yang bocor dan lantai rumahnya sudah ada yang lapuk.

Tidak memiliki penghasilan karena kondisinya. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Mala yang sudah tidak dapat melihat rela memasak untuk keperluan makan.

Meski masakan itu, diakui oleh Mala sebisa dia lakukan, asal dapat untuk dikonsumsi. Dia memsak dengan memanfaatkan telinga dan tangannya.

"Bisa saya masak sendiri untuk makan. Masak nasi saya cuman secanting bisa. Sayur bisa juga. Saya raba saja. Kecuali goreng saya tidak bisa, karena harus dibolak-balik," katanya dengan suara lembut, tatapannya tertuju tanpa arah.

Ia menyatakan, penyakit yang diidapnya itu nyatanya begitu serius dan tak dapat dipandang sebelah mata. Termasuk mustahil bisa disembuhkan.

"Kekiranya kalau matanya sudah pecah. Bagaimana bisa sembuh lagi," ucapnya dengan nada pasrah.

Selama puluhan tahun ini, Mala hanya bisa terbaring di gubuknya tersebut. Ketiadaan biayalah yang membuat perempuan ini tidak berobat ke rumah sakit. Selama ini ia hanya mengandalkan pengobatan tradisional.

"Obat Rejang (tradisional) ada. Tapi tidak ada obatnya lagi mata saya, karena sudah pecah," katanya.

Menurutnya, penyakit itu dia lalui dengan sabar, dan sadar. Semua itu tak menyurutkan semangatnya. Ia tak patah arang, meskipun banyak rintangan.

Kehadiran belasan pemuda di desanya merupakan angin segar baginya yang tinggal sendiri di rumahnya itu. Terlebih membawa 2 kantong berisikan paket bahan pokok menjelang Idul Fitri 1441 Hijriyah.

Tampak raut sedih di mata sang nenek saat rombongan pemuda itu Pamitan. Ia pun mengantar hingga keteras rumah.

Mengaku Tidak Pernah Dapat Bantuan

Keadaan rupanya semakin sulit di tengah pandemi Covid-19 sekarang, terutama bagi Mala yang hanya mengandalkan pemberian orang dan pihak-pihak yang merasa kasihan dengan kondisinya.

Bahkan keponakannya yang tinggal satu perkarangannya selama ini turut juga ikut membantu agar bisa tetap menyambung hidup setiap harinya.

"Keluarga saya (kandung)? Sudah tidak ada lagi," lanjutnya menambahkan.

Dengan kemeja orange yang dia kenakan itu, ia menyatakan baru mengetahui keadaan dunia yang sedang dilanda virus corona.  

Meskipun Publik menjadi heboh lantaran banyaknya informasi yang beredar di media sosial. Namun kehebohan itu justru sama sekali tak dirasakan olehnya. "Pernah saya (cuma) dengar," imbuhnya.

Mala mengaku tidak mengetahui apakah sudah terdaftar sebagai penerima bantuan sosial dari pemerintah atau tidak.

Hal ini karena belum ada petugas yang mendatangi langsung. Sebaliknya, jika ada hanya sekedar untuk mendata.

"Tidak. Saya tidak. Tidak ada yang saya terima. Rp 600 (ribu) tidak," sambungnya dengan bahasa daerah setempat.

Selama masa pandemi corona, pemasukan warga mulai berkurang karena minimnya aktivitas masyarakat sejak diimbau untuk di rumah aja imbas virus corona.

Walapun demikian, Mala tetap bersyukur masih ada orang-orang yang peduli terhadapnya di masa Pandemi Covid-19 yang belum kunjung reda sampai sekarang.

"Tapi alhamdulillah sekali masih banyak yang peduli," demikian Mala. [tmc]



Komentar Pembaca
Kepal Cegah Covid-19 RMOL Rescue

Kepal Cegah Covid-19 RMOL Rescue

SABTU, 04 APRIL 2020 , 17:43:00

China Kibarkan Bendera Setengah Tiang

China Kibarkan Bendera Setengah Tiang

SABTU, 04 APRIL 2020 , 07:39:00

Petugas Di Garda Terdepan Antisipasi Covid-19

Petugas Di Garda Terdepan Antisipasi Covid-19

KAMIS, 26 MARET 2020 , 17:46:00