Kepercayaan Buta Prabowo

Opini Jo  MINGGU, 03 MEI 2020 , 08:15:00 WIB | LAPORAN: RMOL NETWORK

Kepercayaan Buta Prabowo

Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto/Repro

DI tengah kecaman publik terhadap cara pemerintah menangani wabah Covid-19, Prabowo mencuri perhatian melalui video taklimatnya bertanggal 23 April 2020.

Dalam video itu Prabowo mengatakan, ...selama saya menjadi anggota kabinet beliau, saya bersaksi bahwa beliau terus berjuang demi kepentingan bangsa, negara dan rakyat Indonesia”.

Prabowo pun mengatakan bahwa dalam mengambil keputusan Presiden Jokowi selalu berdasar kepada keselamatan rakyat yang paling miskin dan lemah. Lebih dari itu, Prabowo melihat komitmen Presiden Jokowi untuk membersihkan pemerintahan dari korupsi.

Dengan pernyataannya di atas Prabowo menggaris-bawahi dukungannya kepada Presiden Jokowi. Dalam kesempatan itu ia juga meminta dukungan dan kepercayaan dari kader-kader Partai Gerindra atas langkah strategisnya bergabung dalam pemerintahan Jokowi.

Pernyataan Prabowo di atas tidak istimewa walau kontroversial. Dalam politik dukung-mendukung itu soal biasa. Brutus dulu mendukung dan karena itu memperoleh kepercayaan Julius Caesar. Namun belakangan Brutus menikam Caesar. Sudah lumrah dalam politik, hari ini menyanjung besok menyanggah.

Hal yang menarik perhatian saya bukan soal dukung-mendukung tetapi pilihan kata (diksi) ‘bersaksi’. Diksi ini sering dipergunakan dalam teologi, dan menyangkut soal kepercayaan tanpa keraguan. Diksi itu perlu diseksamai karena mencerminkan pikiran. Kita ingin tahu pikiran Prabowo tentang kepercayaan.

Kepercayaan Buta

Kepercayaan adalah kata yang kompleks. Kata itu menurut Google Translate memiliki 23 sinonim dalam bahasa Indonesia, dan 18 sinonim Bahasa Inggris. Adapun kepercayaan yang kita maksudkan di sini adalah kepercayaan kepada orang/lembaga publik, dalam bahasa Inggris disebut (institutional) trust. Jadi kita tidak membahas kepercayaan kepada Tuhan yang biasanya disebut keyakinan, beliefatau faith.

Saya ingin membahas lebih mendalam soal trust sebab trust memiliki kedudukan yang esensial dalam demokrasi. Trust adalah hubungan yang terbentuk diantara orang yang memimpin dan rakyat yang patuh. Kekhasan demokrasi menyatakan bahwa rakyat harus patuh kepada pemimpin namun pemimpin tunduk kepada kehendak rakyat (Carol C. Gould, 1988). Maka kepercayaan yang menghubungkan keduanya mestilah trust yang tidak mengabaikan kemungkinan adanya distrust.

Sementara itu dalam taklimatnya di atas Prabowo meminta kader-kadernya untuk (1) mempercayai dirinya dan karena itu (2) mempercayai Jokowi. Ringkasnya, Prabowo bilang, …karena kamu percaya kepada saya maka kamu harus percaya kepada Jokowi”.

Ada dua alasan Prabowo ajukan untuk argumennya di atas.

Pertama, Prabowo menyatakan bahwa ia adalah ketua umum partai yang demokratis, selalu berkonsultasi sebelum mengambil langkah strategis. Untuk itu ia meminta para kader mempercayainya. Alasan kedua, Prabowo bersaksi (mempercayai tanpa ragu) bahwa Jokowi adalah presiden yang… dan seterusnya. Maka kader pun harus mempercayai Jokowi.

Problematiknya adalah bahwa (1) di dalam organisasi, konsultasi itu mestilah deliberatif, dilakukan dalam rapat resmi dengan keputusan resmi yang terdokumentasi dengan baik. Sepengetahuan saya rapat dan keputusan resmi itu tidak ada. Prabowo nampaknya melakukan konsultasi, tetapi bersifat pribadi. Untuk demokrasi, hal itu tidak memadai.

Problematik kedua, mempercayai seseorang karena kesaksian orang lain hanya setengah benar. Dalam demokrasi kepercayaan diberikan tanpa mengabaikan kemungkinan adanya pelanggaran terhadap kepercayaan itu sendiri. Kepercayaan harus bisa diverifikasi.

Oleh karena itu, dari taklimatnya kita bisa menyimpulkan bahwa kepercayaan bagi Prabowo bermakna kepercayaan buta atau blind trust. Kepercayaan semacam itu menuntut kesetiaan, ketaatan dan penerimaan tanpa pertanyaan dari pemberi kepercayaan kepada penerima kepercayaan.

Blind trust adalah jenis kepercayaan yang tanpa syarat dan tanpa keraguan. Kepercayaan ini mengabaikan kecerdasan, mencerminkan kepribadian yang lemah dan mempromosikan nilai-nilai yang tidak tegas (Vamik D. Volkan, 2004).

Kepercayaan Otentik

Demokrasi membutuhkan kepercayaan dari jenis yang lain, disebut kepercayaan otentik (authentic trust). Kepercayaan itu haruslah bersyarat, fokus, dengan kualifikasi, dan terbatas. Sebagai contoh, kepercayaan kepada anggota DPR hanya berlaku setelah yang bersangkutan memenangkan pemilu (bersyarat), berkenaan dengan tugas sebagai legislator (fokus), berorientasi kepada kinerja (qualified) dan dipilih kembali setelah 5 tahun (limited).

Dengan demikian menjadi wakil rakyat tidak lantas bebas memperoleh kehormatan, fasilitas dan melakukan segala macam.

Kepercayaan otentik tidak mengabaikan kemungkinan adanya distrust. Sebaliknya kepercayaan politik menekankan kemungkinan adanya pelanggaran dan pengkhianatan sebagai bagian yang esensial dalam trust. Pemimpin demokratis mengambil keputusan setelah melakukan deliberasi secara terbuka dengan semua elemen partai. Keputusan itu terukur, dalam arti telah mengantisipasi kemungkinan pelanggaran dan pengkhianatan di dalamnya.

Oligarki

Kepercayaan buta adalah karakter utama oligarki. Mereka mengendalikan partai dari belakang layar, mengambil keputusan sendiri tanpa melibatkan pengurus dan pendukung partai lainnya. Oligarki ini sekarang menguasai semua partai politik kita. Oligarki tidak bekerja untuk rakyat. Oligarki bekerja untuk diri sendiri, mereka berupaya melangengkan diri.

Dunia politik kita menjadi semakin kerdil, tidak kompeten, tidak profesional dan hampir pasti gagal mengontrol pemerintah akibat meluas dan menguatnya oligarki. Seberapa kuat oligarki dapat disiratkan oleh perkembangan dinasti-dinasti politik.

Prabowo adalah bagian dari dinasti Soemitro Djoyohadikusumo di Partai Gerindra. Keluarga itu sangat kuat bukan lantaran kekerabatan tetapi karena profesionalisme dan kompetensi.

Kepercayaan buta adalah pola hubungan yang pada umumnya tercipta di lingkungan militer. Satuan militer terdiri dari komandan dan prajurit, yang memerintah dan yang diperintah. Tugas prajurit hanya satu: mengikuti perintah komandan. Prajurit percaya buta kepada komandannya, apa yang terbaik untuk komandan adalah terbaik untuk mereka.

Saya kira Prabowo membawa inspirasi kepercayaan buta itu dari karirnya yang panjang di dunia militer. Tetapi hubungan militer bukanlah hubungan demokratis.

Kepercayaan buta seharusnya bukan menjadi esensi kepemimpinan Prabowo. Ia mungkin beralasan bahwa keputusan mesti diambil cepat. Namun setelah berbulan lewat rapat-rapat yang dibutuhkan untuk mendasari pengambilan keputusan strategis seharusnya sudah dibuat. Sebuah taklimat saja tidak cukup untuk itu.

Radhar Tribaskoro

Bandung Initiative Networks




Komentar Pembaca
Pilkada, Kepemimpinan Daerah, Dan Pemajuan Daerah
Vaksin Flu

Vaksin Flu

SELASA, 27 OKTOBER 2020

Porang Kultur Jaringan

Porang Kultur Jaringan

RABU, 21 OKTOBER 2020

Obat Trump

Obat Trump

SENIN, 05 OKTOBER 2020

Telah Gugur Pahlawan Bangsa

Telah Gugur Pahlawan Bangsa

RABU, 30 SEPTEMBER 2020

Mengenal Wajah Lebong Melalui Data Statistik