Polres Tetapkan Pemilik Tambang Emas Ilegal Jadi Tersangka

Hukum  KAMIS, 02 APRIL 2020 , 15:09:00 WIB | LAPORAN: ALEXANDER

Polres Tetapkan Pemilik Tambang Emas Ilegal Jadi Tersangka

Jumpa pers Polres Lebong/RMOLBengkulu

RMOLBengkulu. Masih ingat dengan peristiwa kecelakaan kerja yang sempat heboh pada Sabtu (7/3) lalu di Desa Lebong Tambang Kecamatan Lebong Utara. Dimana mengakibatkan tiga penambang emas tradisional meninggal dunia.

Termasuk 12 orang dirawat intensif di rumah sakit umum daerah (RSUD) Lebong maupun puskesmas setempat.

Kini permasalahan tersebut terus bergulir. Dimana Polres Lebong telah menetapkan satu orang tersangka atas kasus penambangan emas tradisional ilegal di daerah itu.

Satu tersangka itu berinisial S (50) seorang laki-laki warga Desa Lebong Tambang Kecamatan Lebong Utara. Ia ditangkap pada Senin (23/3) sekitar pukul 16.00 WIB berdasarkan surat perintah penangkapan nomor SP Kap/13/III/2020/Reskrim tanggal 30 Maret 2020.

Tak hanya itu, ia ditangkap karena kelalaiannya mengakibatkan orang lain mati. Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 Undang Undang RI Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.

Demikian disampaikan Kapolres Lebong AKBP Ichsan Nur didampingi Kabag Ops AKP Rafenil Yaumil Rahman, dan Kasat Reskrim, Iptu Andi Ahmad Bustanil dalam jumpa pers di Mapolres Lebong, Kamis (2/4).

"Kami sudah melakukan penyelidikan, sehingga bisa menetapkan satu tersangka. Nanti, kita coba keembangkan kasus tersebut, tergantung dengan keterangan saksi dan harapannya nanti saksi bisa kooperatif," kata Ichsan.

Baca juga: Tiga Penambang Emas Tradisional Tewas, Polisi Incar Calon Tersangka?

Dia mengutarakan, terungkapnya persoalan ini hingga adanya tersangka bermula saat adanya kecelakaan kerja para penambang emas tradisional pada tanggal 7 Maret 2020 lalu.

Tepatnya dilokasi tambang emas milik tersangka S. Warga setempat sering menyebutkan lokasi tambang itu secara turun temurun dengan nama lobang 8 (delapan).

Dua penambang meninggal dunia yakni Doni, Asmawi dan penolong bernama Heri turut juga meninggal dunia.

"Yang mengakibatkan pekerja tambang dan penolong meninggal dunia dikarenakan kehabisan oksigen untuk bernapas," sampainya.

Terpisah, Kasat Reskrim, Iptu Andi Ahmad Bustanil menyatakan, meskipun sudah ditetapkan sebagai tersangka, S dilakukan penangguhan penahanan.

Dari hasil pemeriksaan tersangka, ia menerangkan bahwa tersangka pertama kali membuka lobang 8 tersebut sejak 5 tahun lalu, karena dinilai sudah pengalaman makanya ia ditetapkan para penambang setempat sebagai pemilik lobang.

Di lokasi lobang delapan tersebut terdapat dua sumur dan dimasing-masing sumur dilengkapi alat pembantu pernafasan udara berupa blower.

Namun di lokasi tersebut, mesin blower tidak berfungsi atau rusak. Sehingga, mengakibatkan tiga orang meninggal dunia lantaran kekurangan oksigen.

"Dari keterangan saksi lobang 8 dan alat-alat yang berada di lobang 8 tersebut milik tersangka. Atas perbuatannya, tersangka terancam dijerat pada pasal 158 UU RI nomor 4 tahun 2009 maksimal 10 tahun penjara atau pasal 359 KUHPidana maksimal 5 tahun penjara," ujarnya.

Menurutnya, meninggalnya ketiga orang tersebut tidak lepas dari lalainya pemilik lobang. Sedianya, di lobang tersebut harus dipasang blower namun justru tidak dipasang dengan baik. "Tambang tersebut juga ilegal," tandasnya. [tmc]

Komentar Pembaca
Senyum Prabowo Airlangga

Senyum Prabowo Airlangga

SELASA, 07 JULI 2020 , 08:15:00

Kepal Cegah Covid-19 RMOL Rescue

Kepal Cegah Covid-19 RMOL Rescue

SABTU, 04 APRIL 2020 , 17:43:00

China Kibarkan Bendera Setengah Tiang

China Kibarkan Bendera Setengah Tiang

SABTU, 04 APRIL 2020 , 07:39:00