Darurat Iklim, Serukan Penolakan Tambang Batu Bara

Nusantara  JUM'AT, 20 SEPTEMBER 2019 , 18:10:00 WIB | LAPORAN: TRI YULIANTI IMRAN

Darurat Iklim, Serukan Penolakan Tambang Batu Bara

Aksi jeda untuk iklim di Simpang Lima Ratu Samban/RMOLBengkulu

RMOLBengkulu. Kaum milenial Bengkulu menyerukan penolakan atas kerusakan lingkungan di Provinsi Bengkulu, yang diduga akibat aktivas tambang batu bara.

Aksi penolakan ini dipusatkan di Simpang Lima Ratu Samban Kota Bengkulu, Jum'at (20/9) pagi. Adapun rangkaian penolakan meliputi orasi, pembagian stiker tentang pentingnya menghentikan penggunaan energi batubara untuk generasi masa depan.

Koordinator Lapanganx Frengky Wijaya, bahwa aksi ini adalah bertujuan untuk menyampaikan pentingnya transisi energi dari fosil ke energi terbarukan secara adil.

Lalu, mewujudkan masa depan bebas energi fosil merupakan langkah nyata penanggulangan perubahan iklim untuk kelangsungan hidup kita dan generasi mendatang.

"Bila pemerintah kita hari ini masih mengandalkan batubara untuk sumber energi listrik seperti PLTU batubara artinya mereka secara sadar memperburuk krisis iklim," tegas Frengky Wijaya.

Dirinya juga menjelaskan, krisis iklim global menyebabkan permukaan air laut terus naik, sehingga berpotensi  menenggelamkan banyak pulau di penjuru nusantara, hjngga dunia. Bahkan, pembakaran batubara, kebakaran hutan dan lahan dapat membunuh jutaan jiwa.

"Waktu kita tinggal 11 tahun lagi. Kita bereaksi bersama jutaan orang lain di dunia, memberi jeda untuk iklim dan membalikan keadaan," sambungnya.

Disisi lain, Koordinator Fossil Cimbyo Layas Ketaren mengingatkan komitmen pemerintah Indonesia dalam perjanjian Paris yang disepakati pada tahun 2015 silam.

Menurutnya, komitmen Indonesia menurunkan emisi karbon bertolak belakang dengan kehadiran proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batubara di Kelurahan Teluk Sepang.

"Terhimpun sebanyak 2.700 ton batubara akan dibakar setiap hari di PLTU tersebut yang memancarkan 700 ton abu beracun ke udara yang dihirup warga kota Bengkulu setiap hari. Karena itu kami sejak awal menolak proyek itu dan mendorong pemerintah segera mengembangkan energi terbarukan seperti tenaga matahari, air, angin yang tidak pernah habis dan dapat terus diperbaharui," tutupnya.

Pantauan RMOLBengkulu, aksi penolakan punah ini dilakukan oleh kaum millenial Bengkulu yang tergabung dalam Komunitas Fossil free Bengkulu bersama lintas komunitas, mahasiswa, serta seniman Bengkulu. [tmc]

Komentar Pembaca
Kepal Cegah Covid-19 RMOL Rescue

Kepal Cegah Covid-19 RMOL Rescue

SABTU, 04 APRIL 2020 , 17:43:00

China Kibarkan Bendera Setengah Tiang

China Kibarkan Bendera Setengah Tiang

SABTU, 04 APRIL 2020 , 07:39:00

Petugas Di Garda Terdepan Antisipasi Covid-19

Petugas Di Garda Terdepan Antisipasi Covid-19

KAMIS, 26 MARET 2020 , 17:46:00