Soal Covid 19, Ada Data Dinkes Provinsi Tak Sinkron

Nusantara  KAMIS, 26 MARET 2020 , 07:15:00 WIB | LAPORAN: TRI YULIANTI IMRAN

Soal Covid 19, Ada Data Dinkes Provinsi Tak Sinkron

Ilustrasi/Net

RMOLBengkulu. Orang Dalam Pamantauan (ODP) atau Orang Dalam Pengawasaan (PDP) tampaknya masih menjadi istilah yang sangat mengkhawatirkan bagi masyarakat Bengkulu, akhir-akhir ini.

Meskipun saat ini Bengkulu masih masuk dalam zona hijau dan belum tercatat pasien positif yang terkena virus covid-19.

Pandemi covid-19 menjadi tema yang penting untuk diberitakan karena berkaitan langsung dengan kepentingan masyarakat, khususnya di Bengkulu. Penyebaran virus yang begitu cepat juga membuat pemerintah mengambil langkah cepat, salah satunya adalah sosial distancing atau komunikasi jarak jauh.

Disusul dengan dikeluarkannya maklumat kapolri dengan tidak mengeluarkan izin keramaian, guna untuk pemutusan rantai penyebaran virus covid-19 secara cepat.

Teranyar, Perkembangan data nasional covid-19 saat ini telah mencapai 790 kasus covid-19 yang dinyatakan positif. Sebanyak 58 orang dinyatakan meninggal dan 31 orang dinyatakan sembuh dari virus covid-19 ini.

Sedangkan perkembangan Provinsi Bengkulu saat ini masih 0 pasien yang dinyatakan positif virus covid-19. Hanya saja untuk ODP tercatat sebanyak 29 orang, 6 diantaranya sehat dan 23 lainnya masih dipantau. Serta untuk jumlah PDP ada sebanyak 3 orang.

Tidak hanya Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu saja yang merilis data ODP/PDP terkait covid-19. Tetapi juga di berbagai daerah di Provinsi Bengkulu juga ikut merilis data tersebut. Ketidaksinkronan membuat publik bertanya-tanya bahkan resah.

Seperti yang dikatakan Kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkulu Tengah belum lama ini, ada 10 orang yang dalam pemantauan dan sedang menjalankan isolasi di rumah.

"Di Benteng kita sudah ada 10 yang ODP, bukan pasien dalam pengawasan (PDP) tapi ODP jangan salah informasi. Artinya, pasien masih dirumah diisolasi secara mandiri,” kata N Gusti Miniarti.

Lalu, 10 orang yang dinyatakan ODP ini adalah mereka yang memiliki riwayat perjalanan ke luar daerah. Seperti pulau jawa dan ada yang dari Thailand.

Data ini tentunya tidak sinkron dengan data yang dimuat oleh Dinkes Provinsi Bengkulu. Berdasarkan data Dinkes Provinsi Bengkulu hingga saat ini jumlah ODP yang ada di Kabupaten  Benteng masih 0 dalam artian belum ada ODP.

Kenapa data ini bisa berbeda? sebelumnya telah dijelaskan oleh Kepala Dinkes Provinsi Bengkulu, Herwan Antoni melalui Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Lisyenti Bahar, bahwa ODP adalah semua orang yang memiliki gejala demam, batuk pilek serta mempunyai riwayat perjalanan yang terjangkit virus covid-19.

"Kabupaten/Kota menyatakan ODP itu lantaran dia baru pergi dari luar daerah yang terpapar virus covid-19 seperti Jakarta. Namun, semua itu baru sebatas teregister ODP dan belum terverifikasi ODP dari Dinkes Provinsi,” jelas Lisyenti.

Menurut pakar komunikasi Universitas Bengkulu, Dr. Gushevinalti dalam penyampaian data covid-19 ini perlu adanya satgas yang salah satu fungsinya adalah sebagai media dalam menyampaikan informasi. Sehingga tidak berkembang data lain yang dapat membingungkan masyarakat.

"Di era digital sekarang ini rasanya lucu kalau tidak mengupdate info. Banyak cara yang dapat dilakukan. Data itu tidak hanya secara lisan disampaikan tapi bisa menggunakan aplikasi atau basisnya digital,” ungkap Gushevinalti.

Dalam hal ini, tambah Gushevilnati. Dinkes Provinsi Bengkulu sudah cukup baik dalam menyampaikan informasi. Namun, tak dapat dipungkiri stigma negatif bagi ODP dan PDP dianggap aib jika menerima status tersebut.

"Jadi jika terpapar seseorang mendapat 2 stigma, yaitu penderita dan penyebar virus,” tutup Gushevinalti. [ogi]

Komentar Pembaca