Soal Covid-19, Pakar Komunikasi: Disinformasi Melemahkan Masyarakat

Nusantara  RABU, 25 MARET 2020 , 18:23:00 WIB | LAPORAN: TRI YULIANTI IMRAN

Soal Covid-19, Pakar Komunikasi: Disinformasi Melemahkan Masyarakat

Pakar Komunikasi UNIB, Dr. Gushevinalti

RMOLBengkulu. Penyebaran virus covid-19 saat ini kian bertambah. Bahkan tidak menutup kemungkinan zona hijau yang ada saat ini di Bengkulu berubah menjadi merah.

Hingga saat ini, di Provinsi Bengkulu telah mencapai 31 kasus covid-19. Di antaranya sebanyak 29 orang dalam pemantaun, dan 3 lainnya menjadi pasien dalam pengawasan.

Menurut pakar komunikasi Universitas Bengkulu, Dr.Gushevinalti, penanganan covid -19 yang dilakukan oleh pemerintah Provinsi Bengkulu sudah cukup baik.

Hal itu dilihat dari adanya posko terpadu yang telah disiapkan oleh pemerintah Provinsi Bengkulu. Dimana ada fasilitasi untuk preventif dan kuratif.

Tidak hanya Pemprov Bengkulu, tetapi juga Pemerintah Kota (pemkot) Bengkulu juga sangat bersemangat memberikan penanganan terhadap penyebaran virus yang ada saat ini.

"Berperang dengan hal yang tak berwujud fisik tentu sangat melelahkan. Disini butuh strategi dan ide-ide cemerlang," kata Gushevinalti, Rabu (25/3) kata RMOLBengkulu.
 
Apalagi data di media massa lokal Bengkulu, lanjut Gushevinalti.  Seperti di Bengkulu, sudah ada yang terdapat Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) bahkan ada yang telah meninggal 1 orang meski belum jelas positif atau negatif.

Dirinya menilai, ini menjadi momok yang sangat mengerikan bagi masyarakat. Kenapa mengerikan? Belajar dari pasien pertama di Indonesia yang diumumkan presiden hanya 2 orang. Lalu, dengan waktu yg tidak lama sekarang sudah mencapai angka lebih 500 orang.

"Untuk Bengkulu kepanikan masyarakat sekarang justru karena banyaknya informasi yang tidak valid bahkan tidak sedikit yang hoax, karena setiap detik gadget kita menerima ratusan info," ucapnya.

Disinformasi dapat melemahkan psikis seseorang lalu kekuatan fisik juga sangat berpengaruh. Lemahnya literasi digital masyarakat dalam menerima informasi menjadi masalah lagi, belum bisa membedakan mana informasi yg benar atau hoax.

"Cek fakta sering kali tidak dilakukan. Saya menyimpulkan ada 2 ketakutan yg dialami masyarakat Bengkulu saat ini, ketakutan akan penyebaran virus.  Kedua, adalah kepanikan atas informasi yang diterima," imbuhnya.

Budaya lokal juga memungkinkan stigma negatif bagi OPD dan PDP. Dianggap aib jika menerima status tersebut, itulah yang mungkin memperlambat penangangan sehingga virus cepat menyebar. Walaupun posko terpadu telah disediakan pemerintah tapi stigma masyarakat tentu menjadi beban org yg telah terpapar.

Lalu untuk kebijakan seluruh PNS untuk lockdown juga bagus untuk mengurangi kerumunan. Bisa dibuatkan sistem shift dalam bekerja, seperti konsep kerja dari rumah.

"Menurut saya bisa saja meniadakan sementara lockdown arus masukknya orang ke Bengkulu baik melalui udara maupun darat atau perketat penjagaan di daerah perbatasan," lanjutnya.

"Untuk di daerah-daerah pedalaman, himbauan untuk menghindari kerumunan seakan tidak berlaku. Mungkin bahasa pesan terlalu tinggi sehingga belum dipahami baiknya ada kampanye berbahasa daerah," tutup Gushevinalti. [ogi]

Komentar Pembaca