Pantai Bengkulu Darurat Sampah, Kita Harus Bagaimana?

Nusantara  JUM'AT, 21 FEBRUARI 2020 , 15:00:00 WIB

Pantai Bengkulu Darurat Sampah, Kita Harus Bagaimana?

Hastri Winanda

PROVINSI Bengkulu merupakan salah satu provinsi yang terletak di bagian barat daya Pulau Sumatera. Pada tahun 2017, jumlah penduduk Provinsi Bengkulu mencapai 1,934 juta jiwa. Hal ini berbanding lurus dengan jumlah sampah yang dihasilkan perhari yang mencapai 260-280 ton berdasarkan data dari Dinas Kebersihan Kota Bengkulu. Pencemaran sampah ini berasal dari rumah tangga, pasar, yang terdiri dari sampah organic dan anorganik. Tingginya
angka pencemaran sampah dari tahun ke tahun di kota ini semakin meningkat terlihat dari luas Kawasan TPA Air Sebakul yang awalnya hanya seluas 3,5 ha menjadi 7 ha.

Pencemaran sampah ini sangat berdampak besar bagi manusia dan lingkungan khususnya di Pantai Bengkulu diantaranya pantai panjang, pantai berkas, dan pantai zakat. Sebagai akibat dari keberadaan sampah ini, terutama sampah padat ialah pencemaran udara melalui proses pembusukan sampah pada umumnya akan menghasilkan gas methan (CH4) dan karbon dioksida  (CO) dan senyawa lainnya sehingga menyebabkan kurangnya daya tarik wisatawan untuk mengunjungi pantai. Tidak hanya pencemaran udara melainkan ada juga pencemaran air, yang menyebabkan semakin rendahnya kualitas air bersih ketika digunakan oleh masyarakat untuk mandi di pantai, penumpukan sampah juga dapat menjadi sarang perkembangbiakan bakteri, kecoa, nyamuk dan parasit lainnya.

Menurut Undang-undang Nomor 23 pada tahun 1997 menyebutkan bahwa lingkungan hidup ialah suatu kesatuan ruang dengan seluruh benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup yang termasuk manusia dan segala perilakunya yang dapat mempengaruhi segala kelangsungan peri kehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Hubungan manusia dan
lingkungan sangatlah erat kaitannya dimana manusia sebagai pemeran utamanya segala perilaku yang dilakukan oleh manusia terhadap lingkungan dapat berdampak baik ataupun buruk. Sejumlah wisata lokal khususnya, menyoroti sampah yang berserakan di tepi Pantai Bengkulu yang merupakan objek wisata yang dipadati pengunjung setiap tahun. Akibatnya pemandangan menjadi kurang bagus karna banyak sampah yang berserakan di tepi pantai. Dikutp dari cendananews.com, (18/06/2018) Koordinator Aliansi Pemuda Peduli Bengkulu
(APPPB), Feri Vandalis, mengatakan persoalan sampah di objek wisata andalan tersebut sudah menjadi masalah yang menahun.

Sampah yang berserakan antara lain, seperti: batok kelapa muda yang dijual pedagang di  pantai tersebut dan sampah plastik. Melihat pemandangan tersebut sepertinya pedagang maupun pengunjung kurang peduli terhadap kebersihan pantai, sebab jika dipantau sampah sudah berserakan dibeberapa titik termasuk di bawah pohon cemara, tempat pengunjung bersantai dan menikmati pemandangan, hingga pantai yang berada di kelurahan pondok besi.

Kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah ke pantai, terutama pemukiman warga yang berdampingan dengan pantai perlu ditingkatkan. Sebab terbukti terdapat aliran limbah rumah tangga yang mengarah langsung menuju pantai. Sehingga jika dibiarkan terus seperti itu lama-kelamaan tentu akan berdampak pada ekosistem laut, hal ini sangat berpengaruh  terhadap mata pencaharian warga setempat yang sebagain besar adalah nelayan. Oleh sebab itu,
penyelesaian persoalan sampah khususnya di pantai Bengkulu membutuhkan keseriusan pemerintah kota Bengkulu bersama para pihak mulai dari pedagang, masyarakat hingga wisatawan. Masyarakat perlu disadarkan dan pemerintah harus menyediakan prasarana yang tepa supaya sampah tidak berserakan di pantai dan bermuara ke laut.

Di samping upaya di atas perlunya suatu kreativitas masyarakat untuk menanggulag sampah yang berserakan di tepi pantai. Padahal sampah plastik apabila diolah dapat menjadi barang bermanfaat dan mempunyai nilai jual. Membuat suatu inovasi seperti tas, dompet, dan ransel yang dibuat dengan menggunakan bahan utama yaitu sampah plastik. Tidak hanya itu saja, dengan adanya inovasi ini masyarakat dapat mempelajari cara pembuatan tas dan membuat Usaha Kecil Menengah (UKM) dalam membuat tas dari dasar plastik, yang mana akan menambah penghasilan masyarakat dan mengurangi angka penggangguran di kota Bengkulu.

Dengan dibentuknya UKM tersebut maka dapat memberikan banyak sekali manfaat, tidak hanya mengurangi sampah plastik yang bertumpuk dan berserakan di jalan, sungai, bahkan laut, namun juga dapat menambah daya kreativitas dan inovasi masyarakat. Lingkungan menjadi bersih dan bebas dari sampah, dengan tidak ada sampah yang berserakan membuat lingkungan menjadi sehat dan bebas dari penyakit, kemudian menambah nilai jual sampah plastik, dan angka kemiskinan dan pengganguran akan berkurang dengan terbukanya lapangan pekerjaan.

Oleh : Hastri Winanda

Mahasiswi Teknik Informatika, Universitas Bengkulu

Komentar Pembaca
China Kibarkan Bendera Setengah Tiang

China Kibarkan Bendera Setengah Tiang

SABTU, 04 APRIL 2020 , 07:39:00

Kepal Cegah Covid-19 RMOL Rescue

Kepal Cegah Covid-19 RMOL Rescue

SABTU, 04 APRIL 2020 , 17:43:00