SOLUSI DITENGAH KRISIS KARAKTER

Nusantara  SELASA, 18 FEBRUARI 2020 , 07:25:00 WIB

SOLUSI DITENGAH KRISIS KARAKTER

Emilda Sulasmi

MEMBACA postingan Wakil Walikota Dedy Wahyudi mengenai ide pembentukan Sekolah Menengah Pertama Negeri- Islam Terpadu (SMPI-IT), agaknya perlu di sikapi dan berikan apresiasi atas kepedulian pemerintah kota terhadap pembentukan karakter anak didik yang berada dalam usia produktif. Gagasan ini lahir dari kekhawatiran pemerintah kota dengan kualitas pembelajaran yang ada dan berjalan selama ini, baik dari sisi pola pembelajaran, kreativitas dan inovasi guru dan paling penting adalah keikhlasan, sebab pada pola Islam terpadu telah mengakar prinsip mengajar yaitu Ibadah.

Sejak disampaikannya gagasan ini, dukungan terus mengalir dan turut berharap semoga dapat terrealisasi pada tahun ajaran 2020-2021 ini. Bahkan terakhir sudah dapat dukungan dari Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT). Bila ini terwujud, nampaknya ini akan menjadi proyek percontohan baik bagi sekolah yang berada di Kota bengkulu maupun di Kota-kota lainnya di Indonesia.

Meskipun demikian, jika dilihat dari sisi sejarah dengan pendekatan kurikulum di Indonesia, maka wacana ini sebenarnya adalah reinkarnasi dari program sekolah Plus, sekolah integrasi atau sekolah terpadu lainnya. Perbedaannya adalah paradigma Islam Terpadu yang jika dirujuk dari situs JSIT-indonesia.com menjelaskan bahwa Sekolah Islam Terpadu menerapkan pendekatan penyelenggaraan dengan memadukan pendidikan umum dan pendidikan agama menjadi satu jalinan kurikulum.

Dengan pendekatan ini, semua mata pelajaran dan semua kegiatan sekolah tidak lepas dari bingkai ajaran dan pesan nilai Islam. Tidak ada dikotomi, tidak ada keterpisahan, tidak ada sekularisasiā€ dimana pelajaran dan semua bahasan lepas dari nilai dan ajaran Islam, ataupun sakralisasiā€ dimana Islam diajarkan terlepas dari konteks kemaslahatan kehidupan masa kini dan masa depan. Pelajaran umum, seperti matematika, IPA,IPS, bahasa, jasmani/kesehatan, keterampilan dibingkai dengan pijakan, pedoman dan panduan Islam. Sementara dipelajaran agama, kurikulum diperkaya dengan pendekatan konteks kekinian dan kemanfaatan, dan kemaslahatan.

Kenapa mesti SMP? Tentunya perlu di analisis melalui berbagai sudut pandang, salah satunya adalah karena usia SMP yang berada antara 12-16 tahun secara psikologis menurut Hurlock berada dalam masa perkembangan yang disebut dengan remaja awal. Pada usia remaja awal ini, menurut Krori (2011) merupakan masa-masa penting bagi orang dewasa untuk lebih memperhatikan perkembangannya, sebab periode inilah para remaja akan mengalami masa yang bermasalah, emosi yang meledak-ledak, usia yang menyeramkan (dreaded), masa unrealism dan ambang menuju kedewasaan.

Alasan kekhawatiran pihak pemerintah kota cukup beralasan untuk membentuk sebuah lembaga yang konsen pada pembentukan karakter, sebab fenomena distorsi nilai dan degradasi perilaku usia remaja sudah mewabah hingga ke wilayah terkecil di negeri ini. Ada banyak berita yang menyebutkan, bahwa pelaku tindakan menyimpang diusia remaja hampir mirip seperti kejahatan yang dilakukan oleh orang dewasa, pencurian, perampokan, pemerkosaan dan berbagai tindakan kejahatan lainnya.

Tidaklah berlebihan kiranya, jika disebutkan bahwa sebaran perilaku menyimpang usia remaja ini bak virus yang mematikan secara perlahan, harus diakui bahwa merekalah generasi masa depan yang akan menjadi penerus estapet kehidupan berbangsa dan bernegara, bisa dibayangkan jika generasi hari ini adalah generasi yang lemah secara emosi, miskin etika, dan rapuh secara spritual. Tentunya hal ini tidak pernah kita harapkan.

Ditengah arus penyimpangan perilaku remaja yang masih berstatus pelajar SMP tersebut, gagasan mengenai SMPNegeri yang bercirikan Islam Terpadu menjadi oase ditengah kekhwatiran orang tua terhadap masa depan anak-anaknya. Tentunya gagasan ini perlu juga untuk diadopsi oleh berbagai sekolah sejenis dalam rangka mewujudkan generasi masa depan yang memiliki karakter kuat, secara emosi, sosial dan spritual.

Meskipun demikian, penulis menyarankan agar pemerintah kota mempertimbangkan aspek-aspek lainnya dalam mencanangkan gagasan ini, diantaranya adalah mengenai harmonisasi kehidupan berbangsa, prinsip-prinsip inklusifitas dan pluralitas suku, rasa dan agama.

Menurut penulis, jika kekhawatiran mengenai karakter yang menjadi alasan utama pendirian SMP Negeri Islam Terpadu ini, maka sesungguhnya yang diperlukan adalah penanaman paradigma penanaman nilai dalam pendidikan bagi pihak pengelola sekolah dan para pendidik serta tenaga kependidikan lainnya. Mengenai hakikat penanaman nilai ini, perlu kiranya mengutip pandangan Syofyan Suari (2007) yang menjelaskan mengenai akronim EDUCATION sebagai paradigma penanaman nilai dan menjadi semboyan dalam pengelolaan pendidikan.

(E)nlightment yang berarti pencerahan, ini adalah proses awal yang mesti ditanamkan ke segenap warga sekolah, dimana setiap orang harus terjadi peningkatan kesadaran yang super menuju kebijaksanaan. (D)uty and Devotion, yang berarti pendidikan harus menyadarkan para siswa dan guru akan tugas dan kewajibannya sebagai manusia dan sebagai warga negara. (U)nderstanding yang bermakna tidak hanya pemahaman terhadap materi ajar, namun harus pula berkorelasi dengan lingkunga sekitar. (C)haracter, berarti sekolah memberikan jaminan perubahan karakter yang mengedepankan 5 nilai karakter utama, yaitu Kebajikan, kedamaian, kasihsayang, dan tanpa kekerasan. (A)ction, nilai yang ditanamkan tidak hanya mengisi ruang kognisi melainkan juga harus diwujudkan dengan tindakan sehari-hari. (T)hanking, artinya adalah bahwa siswa harus juga ditanamkan bagaimana berterima kasih kepada orang tua, guru, teman dan setiap orang yang berperan dalam kehidupannya.  (I)ntegrity, ini yang harus dijunjung tinggi bagi setiap pengelola pendidikan, sifat jujur dan bertanggung jawab serta dapat diandalkan. (O)neness, pendidikan harus menghargai kemajukan, namun tetap berada dalam nilai-nilai persatuan berbangsa dan bernegara. (N)obility, artinya pendidikan harus mencapai nilai kemuliaan, akhir dari proses pendidikan dengan berbagai paradigma tersebut mesti akan sampai pada Nobility. Semoga bermanfaat.

Oleh : Emilda Sulasmi

Penulis adalah PNS Pemerintah Kota Bengkulu dan Doktor dalam Bidang Manajemen Pendidikan



Komentar Pembaca