KENAKALAN ANAK DAN KEJAHATAN TERHADAP ANAK, APA PEMICUNYA?

Opini Jo  JUM'AT, 24 JANUARI 2020 , 10:07:00 WIB | OLEH: QOLBI KHOIRI

KENAKALAN ANAK DAN KEJAHATAN TERHADAP ANAK,  APA PEMICUNYA?
BELUM selesai hebohnya bunuh diri dikalangan remaja, akhir-akhir ini lagi-lagi kita disentakkan pada kasus kenakalan anak dan kejahatan terhadap anak seperti penculikan, pembunuhan dan pemerkosaan serta perilaku pedofilia. Demikian berita yang dipublish media online yang berpusat di Bengkulu, seperti rmolbengkulu.com, bengkulutoday.com, viralpublik.com, pedomanbengkulu.com dan lain-lain, hingga media nasional sejak akhir Desember 2019 hingga Januari 2020.

Melansir berita bengkuluekspres.com, Sefty Yuslinah salah seorang anggota DPRD Provinsi Bengkulu menyatakan, bahwa faktor pemahaman agama dan ekonomi keluarga adalah penyebab dari meningkatnya kasus pemerkosaan dan pembunuhan di Bengkulu. Menyimak dari beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan, pengaruh pemahaman agama, pengetahuan agama atau religiusitas diberbagai riset menyebutkan hanya 15% hingga 45 %. Memang ada pengaruhnya, namun ada faktor lain yang belum terungkap dari beberapa penelitian tersebut. Pernyataan ini didukung dari hasil penelitian yang dilakukan Larson dkk (1998) dengan mereview kembali sekitar 40 penelitian terdahulu didapatkan bahwa 75% menyatakan bahwa religiusitas berkorelasi negatif dengan perilaku juvenile delinquency (perilaku menyimpang pada anak remaja).

Persoalan data saya kira sudah banyak bertebaran dimana-mana, pembaca dapat mengaksesnya melalui daring baik yang terdapat di google cendikia, maupun laman lainnya yang membahas mengenai ini. Tulisan ini hanya akan mengeksplorasi faktor-faktor lain yang diharapkan dapat menjadi bahan kajian bersama dalam rangka mengedukasi masyarakat dan mendesain kebijakan agar dapat mengantisipasi berulangnya kejadian serupa.

Menggunakan pendekatan psikologi terhadap perilaku kriminal, Sigmund Freud misalnya menjelaskan bahwa perilaku kriminal disebabkan pikiran patologis. Bahkan, Goddard (1915) menyatakan bahwa kejahatan sangat terkait dengan kelemahan psikologis, seperti problem emosional dan intelektual (Brown & Campbell, 2010)

Abad modern ini, fenomena kenakalan anak dan kejahatan terhadap anak sesungguhnya merupakan persoalan akut yang sangat sulit mencari akar persoalannya. Jika dari segi lembaga, format dan sistem pendidikan tidak ada yang signifikan perubahannya dari masa kemasa, materi yang diajarkan juga stagnan terutama mengenai nilai-nilai agama, sosial, dan moral hingga adat dan tradisi.

Namun demikian, guna mengantisipasinya, maka dapat dilakukan penelaahan terhadap fenomena yang berubah secara radikal pada era ini, yaitu Milieu, Venue, dan Pola Asuh.

Pertama, Milieu secara bahasa adalah lingkungan, dalam konteks pengembangan karakter seseorang, lingkungan menjadi hal yang penting. Sebab interaksi utama setelah keluarga adalah lingkungan tempat seseorang berada. Berkenaan dengan potensi munculnya kenakalan anak dan kejahatan terhadap anak, bisa diukur dan diamati dari lingkungan dimana anak tersebut dibesarkan, faktor lingkungan ini seringkali juga melibatkan teman, fasilitas dan ketiadaan panutan (role model).

Bisa kita amati saat ini, betapa lingkungan menjadi ruang yang dapat terjadinya turbulensi moral bagi anak. Penulis yakin, bahwa anak tentunya mendapatkan nilai-nilai moral yang baik dari lembaga pendidikan tempat ia belajar, atau juga dari keluarga yang membesarkannya. Namun hal itu tidaklah cukup, sebab interaksi anak akan sangat banyak frekuensinya dilingkungan. Oleh sebab itu, diperlukan atensi dari berbagai pihak untuk menciptakan lingkungan yang aman dan sehat bagi perkembangan jiwa anak.

Kedua adalah Venue, secara istilah venue adalah tempat terjadinya suatu perkara penting, atau tindakan kejahatan. Kemajuan zaman yang disebut dengan globalisasi membuat ruang untuk terjadinya tindakan kenakalan anak dan kejahatan terhadap anak semakin longgar dan terbuka. Sebut saja misalnya tempat-tempat nongkrong yang di creat sedemikian rupa berdasarkan identitas hobi, kelompok, golongan dan lain sebagainya. Tempat-tempat sejenis muncul dan menjamur dimana-mana hingga ke desa-desa, termasuk dalam hal ini adalah rumah sewa. Selanjutnya juga dapat ditemukan tempat-tempat ‘rahasia’ yang berpotensi terjadinya tindakan kenakalan anak dan atau kejahatan terhadap anak. Demikian juga halnya dengan kondisi geografis di Bengkulu yang masih di dominasi areal perkebunan. Berbagai venue yang telah penulis sebutkan tersebut, tentunya memberi ruang yang luas dan lebar terhadap terjadinya suatu perkara tindakan kenakalan anak dan kejahatan terhadap anak.

 Ketiga adalah Pola asuh, pengertian sederhananya adalah sistem, cara kerja atau bentuk dalam upaya menjaga, merawat, mendidik dan membimbing anak kecil supaya dapat berdiri sendiri. Para orang tua pastilah menginginkan anak anak mereka menjadi anak-anak yang baik. Hampir dipastikan bahwa semua orang tidak ada yang menginginkan anak mereka menjadi anak yang nakal, susah diatur, dan keras kepala hingga melakukan tindak pidana dan atau juga terjadinya suatu perkara pidana terhadap anak. Anak menjadi nakal dan keras kepala bukan tanpa sebab. Mereka dipengaruhi oleh beberapa faktor sehingga mereka menjadi nakal dan memiliki sifat jelek lainnya.

Kesalahan pola asuh orang tua dapat menjadi pemicu terjadinya penyimpangan perkembangan jiwa anak, terlebih diera sekarang. Pola asuh orang tua terhadap anak mengalami goncangan yang luar biasa, dimana anak menjadi kebanggaan manakala memperoleh prestasi kuantitatif, hal ini juga didukung dengan nilai prestesiusnya melalui publikasi dengan julukan nilai tertinggi”. Dan untuk mencapainya, banyak orang tua yang berlomba-lomba memberikan pelajaran tambahan bagi anak agar tercapai ‘nilai tertinggi tersebut’. Pada konteks lain, apresiasi pada nilai yang bermuatan karakter terabaikan.

Selain itu, fenomena orang tua sibuk di luar rumah sudah menjadi pemandangan yang biasa. Fungsi orang tua di rumah dengan mudah digantikan dengan asisten rumah tangga dan suster. Di sinilah masalah muncul. Anak-anak zaman now tumbuh menjadi anak-anak yang kesepian karena orang tua mereka tidak hadir” sepenuhnya dalam hidup mereka karena perannya sudah digantikan oleh orang lain. Charlotte Priatna, praktisi Pendidikan, memaparkan bahwa ada dua tipe ekstrem orang tua masa kini. Pertama, orang tua yang dulunya merasa hidupnya sangat sulit dan berjuang untuk bertahan hidup, kini juga memperlakukan anaknya dengan cara yang sama. Kedua sebaliknya. Kesulitan hidup yang mereka rasakan justru membuat mereka ‘kapok’ dan bersumpah anak mereka tidak boleh merasakan kesusahan.”

Harus diketahui, bahwa Anak zaman now tumbuh dengan teknologi yang berkembang begitu pesat. Mereka akan menjadi sosok yang cerdas, brilian, dan punya ide-ide cemerlang. Kehebatan ini harus dibarengi dengan penanaman nilai-nilai luhur keluarga, sebagai fondasi pembentukan karakter mereka. Tanpa dibarengi dengan nilai-nilai luhur tersebut, maka akan muncullah apa yang menjadi kekhawatiran kita saat ini, generasi yang kehilangan identitas dan karakter. Wallahua’lam Bisshawab.


Penulis adalah Ketua Program Doktor PAI IAIN Bengkulu

 

 



Komentar Pembaca
SOLUSI DITENGAH KRISIS KARAKTER

SOLUSI DITENGAH KRISIS KARAKTER

SELASA, 18 FEBRUARI 2020

"POLITIK SANTUN SEGERA KEMBALI”

MINGGU, 16 FEBRUARI 2020

Relasi Antara Infrastruktur dan Maintenance Expence
PUNK DAN RESISTENSI SOSIAL

PUNK DAN RESISTENSI SOSIAL

KAMIS, 30 JANUARI 2020

MARI CEGAH ANAK NEGERI GANTUNG DIRI

MARI CEGAH ANAK NEGERI GANTUNG DIRI

MINGGU, 19 JANUARI 2020

Mem-BUMI-Kan ‘KOTA HADITS’

Mem-BUMI-Kan ‘KOTA HADITS’

RABU, 08 JANUARI 2020