MARI CEGAH ANAK NEGERI GANTUNG DIRI

Opini Jo  MINGGU, 19 JANUARI 2020 , 15:25:00 WIB

MARI CEGAH ANAK NEGERI GANTUNG DIRI

Qolbi Khoiri

ADA pilu yang menyeruak ke relung hati, manakala berkali-kali ditemukan, Anak Negeri Bergantung Diri”-meminjam istilah Ahmad Kanedi (Bang Ken) di GWA Berita RMOL Bengkulu. Kejadian ini entah yang keberapa lagi, dalam catatan penulis sejak tahun 2019 hingga awal 2020 telah terjadi sedikitnya lima kali terjadi kasus bunuh diri, pelaku bunuh diri ini berada dalam rentang usia 17 hingga 40 tahun.

Emile Durkheim, seorang Sosiolog Perancis, pada akhir abad yang lalu membagi macam macam bunuh diri dilihat dari aspek sosialnya menjadi 3 kelompok, yaitu pertama, Bunuh Diri Egoistik, artinya Orang itu tidak kuat berintegrasi dalam masyarakat atau dalam suatu kelompok tertentu. Kedua. Bunuh Diri Altruistik, yaitu Orang yang terlalu kuat berintegrasi dalam masyarakat atau kelompoknya, sehingga mengikut saja suatu tradisi dan norma yang menuntut seseorang melakukan bunuh diri, Jepang misalnya dengan tradisi Harakiri. Ketiga, Bunuh Diri Anomik, maksudnya orang yang terdapat gangguan dalam keseimbangan berintegrasi dalam masyarakat sehingga kehilangan pegangan pada norma norma, baik agama, sosial, psikolgis dan lain-lain.

Fenomena ini sesungguhnya tidak hanya terjadi di Bengkulu, melainkan juga sudah menjadi fenomena dunia, hal ini dapat dilihat dari respon Badan Kesehatan Dunia (WHO) dengan menetapkan 10 September sebagai Hari Pencegahan Bunuh Diri Se-Dunia. Pada peringatan tahun 2019 lalu, WHO telah mewanti-wanti bahwa fenomena ini menjadi momok dunia dengan data kasus bunuh diri setidaknya sekitar 800.000 diseluruh dunia, yang berarti setiap 40 detik telah terjadi 1 kasus bunuh diri.

Di Indonesia, kasus bunuh diri ini juga menjadi perhatian dari berbagai kalangan, menurut The Indonesian National Representative Of International Association For Suicade Prevention (IASP), fenomena ini menimpa kalangan remaja produktif yang berada dalam rentang usia 15-29 tahun. Ada banyak pendapat yang menjadi pemicu terjadinya kasus ini, diantaranya faktor psikologis, sosial, biologis, budaya dan lingkungan. Karena tak ada faktor tunggal, maka pada kasus bunuh diri tidak bisa disalahkan pada satu orang seperti pelakunya, orang tua, teman atau pacar.

Hemat penulis, ada dua pendekatan yang dapat di lakukan sebagai  upaya pencegahan kejadian ini, yaitu pendekatan pendidikan agama dan pendekatan sosial. Pendekatan pendidikan agama tidak hanya dilakukan melalui insitusi pendidikan agama seperti sekolah, madrasah, pesantren, masjid, gereja, pura, vihara atau majelis-majelis pengajian agama.

Melainkan juga harus berangkat dari institusi terkecil dalam masyarakat yaitu Keluarga. Pemahaman agama penting ditekankan sejak dini kepada anak, agar mereka memahami esensi hidup dan kehidupan dengan segala dinamikanya, setiap agama tentunya mengajarkan hal ini.

Islam misalnya, menekankan esensi hidup adalah pengabdian kepada Allah Swt dengan menggunakan dunia sebagai sarana untuk mengumpulkan amal sholeh, dan menjadikan Allah Swt sebagai tujuan dan tempat bergantung. Selain itu, Islam juga menekan sifat Qanaah, yaitu selalu merasa cukup dan rela menerima, dengan cara ini seseorang dapat mengontrol keinginan yang berlebihan. Dan tentunya masih banyak lagi nilai-nilai agama yang penting untuk ditanamkan kepada anak dalam rangka membentuk karakter tangguh anak, hal utama yang harus diperhatikan oleh keluarga adalah dengan siapa dia bergaul, inilah beberapa hal dalam pendekatan pendidikan agama yang dapat mencegah fenomena bunuh diri ini.

Pendekatan kedua yaitu pendekatan sosial emosional, pendekatan ini dapat dilakukan oleh orang-orang terdekat, sebab mereka dianggap mampu mengidentifikasi dengan memahami kepribadian seseorang yang berpotensi melakukan hal tersebut. Pada kondisi ketidak stabilan emosi, orang dalam posisi tersebut tidak tepat untuk persalahkan, dihibur atau dinasehati, apalagi sampai memberikan justfikasi dengan diksi yang menyakitkan, seperti Bodoh, Tolol dan lain sebagainya.

Perlakuan orang terdekat dalam konteks sosial emosional akan turut mempengaruhi keputusan orang yang dalam kondisi tidak stabil tersebut, oleh karenanya pada kondisi ini, jangan sampai meninggalkan mereka dengan menjauhi dan atau membencinya. Bila ini terjadi, maka akan semakin cepat keputusannya untuk mengambil tindakan tersebut.

Selain itu, pendekatan ini juga dapat dilakukan dengan cara mencoba memahami situasi psiko-emosi orang yang dalam keadaan tidak stabil tersebut, jangan sekali-kali berperan sebagai orang yang melindungi, menjaga atau bahkan bersikap otoriter, pada kondisi ini mereka tidak membutuhkan peran tersebut. Wallahua’lam Bisshawab.

Qolbi Khoiri

Dosen IAIN Bengkulu   



Komentar Pembaca
SOLUSI DITENGAH KRISIS KARAKTER

SOLUSI DITENGAH KRISIS KARAKTER

SELASA, 18 FEBRUARI 2020

"POLITIK SANTUN SEGERA KEMBALI”

MINGGU, 16 FEBRUARI 2020

Relasi Antara Infrastruktur dan Maintenance Expence
PUNK DAN RESISTENSI SOSIAL

PUNK DAN RESISTENSI SOSIAL

KAMIS, 30 JANUARI 2020

KENAKALAN ANAK DAN KEJAHATAN TERHADAP ANAK,  APA PEMICUNYA?
Mem-BUMI-Kan ‘KOTA HADITS’

Mem-BUMI-Kan ‘KOTA HADITS’

RABU, 08 JANUARI 2020