Mem-BUMI-Kan ‘KOTA HADITS’

Opini Jo  RABU, 08 JANUARI 2020 , 06:30:00 WIB

Mem-BUMI-Kan ‘KOTA HADITS’

Qolbi Khoiri

TULISAN ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya yang pernah di muat dalam media ini, judul utama yang penulis buat sesungguhnya merupakan respon dari status di media sosial seorang netizen, Kemana Arah Kota Bengkulu Sebagai Kota Hadits”, jika telaah lebih jauh, penulis yakin para pembaca akan dapat mengambil benang merahnya. Setidaknya terdapat empat hal utama. Pertama, membahas mengenai skeptisisme, yang dalam bahasa filsafat disebut dengan keraguan, atau paham yang memandang sesuatu selalu tidak pasti (meragukan, mencurigakan). Kedua, membicarakan esensi hadits itu sendiri, Ketiga, membicarakan mengenai Simbolisme dan Esensialisme, dan Keempat, membicarakan tentang apa yang harus dilakukan sebagai tindak lanjut dari gagasan Walikota Bengkulu dengan mencanangkan Kota Bengkulu sebagai Kota Hadits. Pada aspek keempat inilah, fokus dari tulisan berikut ini.

Perdebatan slogan/istilah/simbol Kota Hadits” agaknya bisa di sudahi dengan respon dari suara yang patut diduga adalah suara Wali Kota Bengkulu Helmi Hasan, ia menyatakan bahwa Slogan Kota Bengkulu sebagai Kota Hadits yang banyak ‘diserang’ ini merupakan sebuah Doa”, atau juga merupakan sebuah cita-cita hingga akhirnya dapat menjadi kenyataan.

Terlepas dari itu, agaknya juga perlu dirancang bangun bagaimana bentuk tindak lanjut nyata dari gagasan ini, tidak bisa hanya sekedar menjawab dengan sesederhana sebagaimana yang diinginkan Walikota, agar setiap warga Kota Bengkulu yang beragama Islam dapat menghafal Hadits, minimal 40 hadits dengan tujuan agar masuk surga.

Penulis berkeyakinan, bahwa mencapai sebuah tujuan apalagi dalam bentuk kebijakan, perlu dilakukan follow up yang nyata, yang berorientasi pada tujuan. Pelibatan berbagai pihak mutlak diperlukan, sebab implikasi dari sebuah gagasan yang dibuat oleh pemimpin tertinggi pada satu teritori akan berdampak secara keseluruhan warganya. Untuk itulah perlu didiskusikan dengan mengenyampingkan sentimen vested interest temporer, musti pure gagasan yang mencerahkan.

Tidak ada yang salah dengan ide Kota Hadits, tidak ada larangan pula untuk itu, soal pro dan kontra menurut hemat penulis masih dalam konteks yang wajar dan normal-normal saja. Namun, yang menjadi kegelisahan akademik adalah, apa programnya dan bagaimana implementasinya, sehingga tidak terkesan me-LANGIT, oleh karena itulah maka perlu di BUMI kan.

Hemat penulis, dalam rangka mem-Bumi kan Kota Hadits ini, perlu dipertimbangkan beberapa hal berikut ini:

Pertama, optimalisasi lembaga pendidikan Islam. Harus diakui, bahwa lembaga pendidikan Islam merupakan ujung tombak dalam rangka sosialisasi dan juga edukasi agar masyarakat mengenal dan menghafal hadits. Dalam sejarah bangsa Indonesia, benteng peradaban pendidikan Islam dikenal dengan istilah Pesantren, menurut Nucholis Madjid, pesantren adalah wajah asli dari bentuk pendidikan Islam di Indonesia. Apakah lembaga sejenis di Kota Bengkulu sudah dioptimalkan? Bagaimana mengoptimalkannya? kiranya para ahli pendidikan perlu mendiskusikan hal ini.

Kedua, pelibatan para pihak berkepentingan, maksudnya adalah bahwa program ini merupakan program yang membutuhkan partisipasi aktif berbagai pihak, mulai dari ahli Hadits/Sarjana Hadits/Ulama Hadits dan atau juga pakar hadits. Sehingga dengan pelibatan para pihak tersebut, akan lebih memperkuat materi-materi hadits yang hendak diajarkan kepada masyarakat. Sebab sebagaimana diketahui dalam literatur ilmu Hadits, terdapat berbagai tingkatan Hadits dan berbagai macam pula matan hadits tersebut. Kiranya para ahli hadits dapat dilibatkan untuk menjelaskan ini.

Ketiga, memperkuat gagasan ini juga dapat dilakukan melalui sektor informal yang diatur dan didukung regulasi lainnya, salah satu yang bisa diadopsi menjadi program oleh pemerintah kota Bengkulu adalah program didikan subuh yang dikembangkan di Sumater Barat dan Pekan Baru. Kegiatan didikan subuh ini selain dapat dijadikan medium bagi penghafal hadits, juga dapat dijadikan sebagai sarana penguatan karakter.

Keempat, pendidikan khusus yang didukung oleh Pemerintah Kota baik melalui beasiswa maupun penyedian sarana dan prasarana secara simultan bagi penggiat dan penghafal hadits. Program ini tidak hanya berlaku bagi anak-anak usia sekolah, juga dapat dilakukan melalui forum-forum pengajian seperti majelis taklim, pesantren Kilat dan lain-lain. Terdapat berbagai ragam format dan muatan kurikulumnya, pada aspek inilah diperlukan urun rembuk dan sinergisitas Dinas Pendidikan Nasional dan Kementerian Agama.

Melalui beberapa point di atas, penulis berharap akan muncul gagasan dan kontribusi pemikiran lainnya sehingga dapat mendukung terwujudnya Kota Bengkulu sebagai Kota Hadits. Wallahua’lam Bishawab.

Qolbi Khoiri
Dosen IAIN Bengkulu


Komentar Pembaca
Virus Minyak

Virus Minyak

SABTU, 04 APRIL 2020

SINERGITAS SOSIAL DITENGAH BENCANA
Puisi Qolbi: LEPASKAN KEKHILAFAN KAMI
Pasukan Tempur Mulai Melawan Jokowi
Salah Siapa

Salah Siapa

RABU, 25 MARET 2020

Obat Covid

Obat Covid

MINGGU, 22 MARET 2020

China Kibarkan Bendera Setengah Tiang

China Kibarkan Bendera Setengah Tiang

SABTU, 04 APRIL 2020 , 07:39:00

Kepal Cegah Covid-19 RMOL Rescue

Kepal Cegah Covid-19 RMOL Rescue

SABTU, 04 APRIL 2020 , 17:43:00