KEMANA ARAH KOTA BENGKULU SEBAGAI KOTA HADITS

Opini Jo  KAMIS, 02 JANUARI 2020 , 20:04:00 WIB

KEMANA ARAH KOTA BENGKULU SEBAGAI KOTA HADITS

Qolbi Khoiri

TULISAN ini berangkat dari sebuah status yang buat oleh salah seorang netizen, yang mempertanyakan Apa yang yang dimaksud Kota Hadits?”, atau lebih tepatnya Kota Hadits, Maksudnya Apa?. Pertanyaan yang dijadikan judul status tersebut kira-kira berada pada posisi skeptisisme, yang dalam KBBI diartikan sebagai paham yang memandang sesuatu selalu tidak pasti (meragukan, mencurigakan), kurang percaya, ragu-ragu (terhadap keberhasilan ajaran dsb). Dalam penggunaan sehari-hari skeptisisme bisa berarti suatu sikap keraguan atau disposisi untuk keraguan baik secara umum atau menuju objek tertentu. Skeptisisime merupakan Sebuah pernyataan yang akan diprotes karena memiliki Paradoks.

Kembali kepersoalan, pertanyaan yang diajukan netizen tersebut juga dapat dijadikan pintu masuk untuk mempertegas eksistensi KOTA HADITS” yang dimaksudkan oleh pemerintah Kota Bengkulu tersebut, sebab hingga saat ini belum tampak arah dan program yang direncanakan oleh Pemerintah Kota guna mewujudkannya, baik dalam bentuk perencanaan program maupun narasi ide dan gagasan yang hendak dituju untuk Simbolisme” tersebut.

Eksistensi Hadits

Perlu diketahui, bahwa esensi hadits adalah adalah mengambil hikmah, nilai-nilai filosofis sangat dalam yang terkandung dari suatu hadits Nabi Muhammad SAW tidak hanya terikat pada teksnya. Maka salah satu caranya ialah memahami hadits berdasarkan asbabul wurud makro, maksudnya mengkaji hadits melihat keadaan Nabi Muhammad SAW pada saat mengeluarkan hadits tersebut dan kondisi masyarakat secara umum termasuk juga dalam pembahasan ini meliputi sebab-sebab munculnya hadits (asbabul wurud mikro). Jadi, ketika memahami sebuah hadits tidak terlepas dari teksnya saja, tetapi lebih jauh dari itu semua melihat sisi makna lafadz, kondisi masyarakat, latar belakang pada saat Rasulullah SAW mengungkapkan hadits ini serta meneliti keshohehan perjalanan periwayatan hadits dari masa Rasulullah SAW sampai kepada kita masakini. Oleh sebab itu, memahami Hadits secara jelas dan hati-hati merupakan keharusan bagi umat Islam, selain memahami hadits maka harus diperhatikan tingkat kebenaran hadits tersebut sehingga kita dapat menentukan status hadits (Shoheh, dhaif, hasan dan lain-lain) maka kita dapat memilih mana hadits yang layak diungkapkan atau tidak.

Imam Bukhori, dalam sejarahnya diceritakan bagaimana kehati-hatiannya dalam meriwayatkan sebuah hadits. Saat mendengar ada sebuah hadits dari rasulullah, sang imam lalu bertanya, dari mana hadits itu diriwayatkan. karena kurang yakin dengan penyampai kepada dirinya, Imam Bukhori lalu bertanya kepada penyampai hadits itu posisi sang syekh yang meriwayatkan hadits. Setelah diketahui posisinya, maka berjalanlah sang imam bukhori untuk menemui sang guru itu guna memastikan apakah benar dia meriwayatkan hadits dari rasulullah. Sebab, untuk meriwayatkan sebuah hadits itu memang tidak mudah, selain ada syarat shohih sanad dan matan yang artinya, kita harus menjamin ketersambungan perawi sampai rasulullah, sementara sahih matan adalah apa yang disampaikan dari sisi redaksionalnya juga harus sama persis sebagaimana disampaikan oleh rasulullah meskipun telah melawati rentang waktu yang panjang dan para guru dan syekh yang beraneka ragam.

Antara Simbolisme dan Essensialisme

"Jika beragama tanpa simbol, maka menelusuri jalan tanpa Rambu. Sesungguhnya kita tidak bisa lepas dari simbol, kata dan nama, kita ingin memahami dan mendekati tuhan bahkan dapat melewati ketiganya”

Pengantar tersebut menjadi titik point diskusi pada tulisan ini, bahwa simbol merupakan entitas yang esensial bagi manusia, apalagi dalam hal agama. Nursyam  (2005: 36)  menjelaskan bahwa agama sama halnya dengan kebudayaan, yaitu suatu sistem simbol atau suatu sistem pengetahuan yang menciptakan, menggolong-golongkan, meramu dan merangkaikan dan menggunakan simbol untuk berkomunikasi dan untuk menghadapi lingkungannya, sebab setiap agama akan memiliki sistem simbol yang disebut sebagai simbol suci yang menggambarkan keberadaan etos dan pandangan hidup yang secara hakiki merupakan bagian penting bagi eksistensi manusia. Dengan adanya etos dan pandangan hidup (worldview) yang memancarkan simbol-simbol suci tersebut, manusia mengadakan kegiatan kehidupan sehari-hari. Dengan cara demikian, agama menjadi sesuatu yang eksis dalam kehidupan manusia, karena manusia menginterpretasikan kehidupannya berdasarkan dan dipedomani oleh agamanya atau simbol-simbol suci yang diyakininya itu.

Geertz (1992) memberikan definisi agama sebagai: Suatu sistem simbol yang mengokohkan perasaan (moods) dan motivasi secara kuat, menyeluruh, dan bertahan lama pada diri manusia, dengan cara memformulasikan konsepsi-konsepsi mengenai suatu hukum yang berlaku secara umum berkenaan dengan eksistensi manusia, dan menyelimuti konsepsi-konsepsi ini dengan suatu aura tertentu yang mencerminkan kenyataan, sehingga suasana hati dan motivasi-motivasi tersebut nampaknya secara tersendiri (unik) adalah nyata ada.

Memahami simbol agama, terdapat beberapa karakteristik dalam perspektif ini. Pertama, agama adalah fenomena yang terjadi dalam subjek manusia serta terungkap dalam tanda dan simbol. Kedua, fakta religius bersifat subjektif yang merupakan keadaan mental manusia religius dalam melihat dan menginterpretasikan hal-hal tertentu. Ketiga, pemahaman makna fenomena agama diperoleh melalui pemahaman ungkapan-ungkapan keagamaan yang meliputi kata-kata, tanda-tanda, dan tingkah laku yang ekspresif. Keempat, pemahaman suatu fenomena religius meliputi empati (usaha untuk mencoba memahami perilaku orang lain berdasarkan pengalaman dan perilaku dirinya sendiri) terhadap pengalaman, pemikiran, emosi dan ide-ide pemeluk agama. Kelima, fakta-fakta keagamaan yang merupakan fakta psikis dan spritual yang merupakan intensionalitas dari ekpresi pengalaman religius dan iman yang lebih dalam (Tischler: 1990).

Sangat kompleksnya simbol-simbol agama dalam praktik beragama yang dilakukan seseorang maupun masyarakat, dapat terlihat dalam beberapa hal yang memberi ruang untuk ijtihad, yaitu urusan di luar ibadah. Hal ini menggambarkan pada simbolisme dalam praktik beragama di masyarakat merupakan sebuah keniscayaan yang sulit atau bahkan tidak dapat dihilangkan. Fungsi identitas masyarakat beragama juga banyak diperankan oleh simbol-simbol agama ini.

Masalah utama yang muncul dari diskursus Kota Hadits” ini adalah pada aspek praktik beragama di masyarakat yang merupakan sebuah keniscayaan. Perdebatan antara simbol dan esensi menjadi riuh manakala yang digunakan dalam wilayah yang kental dengan atmosfir pragmatisme, prestesiusme, politik identitas dan berbagai isu-isu interest muttakhir.

Terdapat banyak argumentasi dari kedua belah pihak, satu pihak mengedepankan simbol dan dilain pihak mengedepankan esensi. Bagi yang mengedepankan esensi menyatakan bahwa realita sebagian umat Islam sekarang hanya mementingkan simbol belaka, baik itu dari segi pakaian, aksesoris, atribut kelompok atau partai, maupun jargon. Menurut mereka  akan berdampak buruk pada citra Islam itu sendiri. Bahkan sebagian penganut agama terbesar kedua di seluruh pelosok dunia ini lebih bangga jika simbol-simbol keislaman lebih ditonjolkan daripada esensi yang terkandung di dalam agama Islam. Sehingga banyak menimbulkan gesekan antara pemeluk agama lain maupun antar pemeluk Islam sendiri. Padahal, akar permasalahannya hanyalah simbol.

Bagi yang lainnya berargumentasi, bahwa Manusia merupakan animal symbolicum. Dengan kemahiran komunikasi simbolik, seluruh kehidupan manusia ditransformasikan secara radikal. Jika dibandingkan dengan binatang, manusia tidak semata-mata hidup dalam realitas yang lebih luas, melainkan lebih dari itu, ia ada dalam dimensi realitas baru”. Representasi simbolik merupakan fungsi sentral kesadaran manusia dan menjadi dasar bagi pemahamannya tentang seluruh kehidupan manusia, termasuk: bahasa, seni, sejarah, agama dan sebagainya. Karena universalitasnya, simbolisme kemudian dianggap oleh Cassirer, sebagai biji yang terbuka” bagi pemahaman budaya manusia.” (Cassirer dalam Morris, 2003: 271).

Alirkan Kran Diskusi, Rancang Bangun Follow-Up Program; Dari Simbol Ke- Esensi.

Pada Sub ini, sesungguhnya penulis tidak berpretensi untuk menampilkan narasi otokrasi. Namun tegas untuk disampaikan bahwa perdebatan akan menjadi konstruktif manakala kran paradigma, gagasan, ide, dan berbagai bentuk sumbangsih pemikiran dalam rangka memperkuat Kota Hadits” segera dialirkan kepada setiap komponen masyarakat, baik praktisi, akademisi maupun kelompok-kelompok sosial lainnya. Keterlibatan berbagai pihak tersebut selain sebagai bentuk responsibiltas dari Rakyat, juga merupakan ruang sharing bagi pemegang kebijakan publik untuk mengukur tingkat partisipasi dan ketepatan program yang telah, sedang dan yang akan dirancang.

Meminjam teori dari kebijakan publik, boleh jadi kebijakan publik dianggap sebagai salah satu hasil dari perdebatan panjang yang terjadi di ranah negara dengan aktor-aktor yang mempunyai berbagai macam kepentingan. Dengan demikian, kebijakan publik tidak hanya dipelajari sebagai proses pembuatan kebijakan, tetapi juga dinamika yang terjadi ketika kebijakan tersebut dibuat dan diimplementasikan.

Salah satu yang dapat di jadikan ruang pengembangan Paradigma, Ide dan gagasan ini adalah lembaga pendidikan. Pertanyaannya adalah, sudah sejauh mana penguatan kelembagaan pendidikan yang akan menjadi lokomotif gerakan Kota Hadits” ini di perkuat oleh Pemerintah Kota?. Penting untuk diketahui, bahwa lembaga pendidikan merupakan wadah transfer ilmu pengetahuan dan budaya kepada individu untuk mengubah tingkah laku seseorang menjadi lebih dewasa dan memperoleh kehidupan yang lebih baik di masa depan, yang menurut Toynbee (1961), hal tersebut dapat di pelajari. Itulah kenapa lembaga pendidikan memiliki fungsi dan peranan yang sangat berarti bagi masyarakat di suatu negara. Selain mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung, lembaga ini juga mengajarkan peserta didik tentang kemandirian, kemampuan berprestasi, pengembangan kepribadian, dan spesifikasi. Membicarakan lembaga pendidikan, tentunya tidak sebatas tempat atau arena, namun juga membicarakan mengenai Capital yang terlibat di dalamnya. Mari Diskusikan. Wallahua’lam Bisshawab

Qolbi Khoiri

Penulis adalah Dosen IAIN Bengkulu

Komentar Pembaca
Virus Minyak

Virus Minyak

SABTU, 04 APRIL 2020

SINERGITAS SOSIAL DITENGAH BENCANA
Puisi Qolbi: LEPASKAN KEKHILAFAN KAMI
Pasukan Tempur Mulai Melawan Jokowi
Salah Siapa

Salah Siapa

RABU, 25 MARET 2020

Obat Covid

Obat Covid

MINGGU, 22 MARET 2020

China Kibarkan Bendera Setengah Tiang

China Kibarkan Bendera Setengah Tiang

SABTU, 04 APRIL 2020 , 07:39:00

Kepal Cegah Covid-19 RMOL Rescue

Kepal Cegah Covid-19 RMOL Rescue

SABTU, 04 APRIL 2020 , 17:43:00