PMII Rejang Lebong Bahas NKRI Bersyariah

Daerah  KAMIS, 22 AGUSTUS 2019 , 14:25:00 WIB | LAPORAN: RIZKI MARDANI

PMII Rejang Lebong Bahas NKRI Bersyariah

Dialog kebangsaan PMII RL bahas NKRI syariah/ RMOLBengkulu

RMOLBengkulu. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Rejang Lebong menggelar dialog kebangsaan mengangkat isu NKRI bersyariah yang sempat mencuat akhir-akhir ini.
Dialog kebangsaan pasca munculnya opini NKRI bersyariah yang digelar di gedung Nahdatul Ulama (NU) Rejang Lebong itu diisi oleh sejumlah narasumber, meliputi Ketua PC NU Rejang Lebong, Ngadri Yusro, Ketua PD Muhammadiyah Rejang Lebong, Lukman Asha, Kasat Binmas Polres Rejang Lebong Iptu Lilik Sucipto, Kasat Intel Polres Rejang Lebong, Iptu Toto Widi Hartanto dan Bati Intel Kodim 0409 Rejang Lebong Peltu Ferizon.

Ketua PC NU Rejang Lebong, Ngadri Yusro dalam materinya menyampaikan, secara tegas pihak NU menolak istilah NKRI bersyariah, yang ada NKRI harga mati yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.

"Belakangan ini istilah syariah laris manis digunakan, sehingga disetiap aspek kehidupan menggunakan kata syariah, harus dipahami dulu kata syariah itu," kata Ngadri dalam dialognya, Kamis (22/8).

Dia menjelaskan, bangsa Indonesia memiliki 4 dasar dalam bernegara, yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinke Tunggal Ika dan NKRI harga mati, jika 4 dasar itu dipedomani maka tidak ada istilah NKRI syariah.

Dirinya berharap kepada masyarakat agar tidak mudah terpengaruh terhadap konsep yang dibalut dengan isu agama, karena menurutnya semua ada pada tempatnya, yakni ada aturan dalam beragama dan ada aturan bernegara.
Hal senada juga disampaikan oleh Ketua PD Muhammadiyah Rejang Lebong, Lukman Asha, menurutnya istilah NKRI syariah itu memang diciptakan untuk mengeruhkan suaasana.

"Muhammadiyah tidak sepakat dengan istilah NKRI syariah, rumusan Pancasila itu sudah lengkap tinggal kita praktikkan dan jalankan," ujarnya.

Kapolres Rejang Lebong, AKBP Jeki Rahmat Mustika melalui Kasat Intel, Iptu Toto Widi Hartanto menambahkan, dalam merumuskan dasar Negara Indonesia berupa Pancasila, para pendahulu tidak mementingkan ego semata, sehingga apa yang dibutuhkan bangsa Indonesia tercover dalam Pancasila.

Berdasarkan pantauan, diakhir dialog kebangsaan tersebut para peserta yang terdiri dari kalangan pelajar sekolah, mahasiswa, perwakilan organisasi keagamaan, tokoh masyarakat dan tokoh agama itu menyatakan sikap menolak NKRI syariah. [ogi]

Komentar Pembaca