Peneliti Temukan Penggunaan Ganja 2.500 Tahun Yang Lalu

Nusantara  JUM'AT, 14 JUNI 2019 , 06:58:00 WIB | LAPORAN: OGI MANSYAH

Peneliti Temukan Penggunaan Ganja 2.500 Tahun Yang Lalu

Anglo atau alat pembakar kuno di China/BBC

RMOLBengkulu. Ganja diperkirakan telah dihisap oleh manusia setidaknya sejak 2.500 tahun yang lalu. Begitu hasil studi yang dilakukan sejumlah peneliti yang dipublikasikan dalam jurnal Science Advances baru-baru ini.

Para peneliti menemukan bukti paling awal yang diduga terkait tentang penggunaan ganja dari makam yang terletak China barat.

Penggunaan ganja di masa lalu diduga terkait dengan ritual atau kegiatan keagamaan. Pasalnya, jejak penggunaan ganja diidentifikasi dalam pembakar kayu dari penguburan.

Tim peneliti menemukan alat pembakar kuno , atau anglo, di Pemakaman Jirzankal di wilayah Pegunungan Pamir. Mereka memperkirakan bahwa manusia di masa lalu menaruh daun ganja dan batu panas di anglo dan menghirup asap yang dihasilkan.

Tanaman ganja sendiri diketahui telah dibudidayakan di Asia Timur untuk biji berminyak dan serat dari setidaknya 4.000 sebelum masehi.

Lokasi penemuan anglo dan jejak penggunaan ganja di China itu sendiri berada di ketinggian yang memungkinkan ganja untuk tumbuh subur.

Ini adalah bukti paling awal dari ganja yang digunakan untuk sifat psikoaktifnya di masa lalu.

Dalam melakukan studi ini, para ilmuwan menggunakan metode yang disebut kromatografi gas-spektrometri massa untuk mengisolasi dan mengidentifikasi senyawa yang disimpan dalam pembakar.

Hasilnya, mereka menemukan jejak dari senyawa kimia kanabis atau ganja.

Temuan ini sesuai dengan bukti awal lainnya tentang keberadaan ganja dari penguburan lebih jauh ke utara, di wilayah Xinjiang China dan di Pegunungan Altai di Rusia.

"Temuan ini mendukung gagasan bahwa tanaman ganja pertama kali digunakan untuk senyawa psikoaktif mereka di daerah pegunungan di Asia Tengah timur, setelah itu menyebar ke wilayah lain di dunia," kata direktur di Institut Max Planck untuk Ilmu Sejarah Manusia di Jena, Jerman yang terlibat penelitian, Nicole Boivin, seperti dimuat BBC (Kamis, 13/6). dikutip RMOL.ID. [ogi]


                   




Komentar Pembaca