Jeruk Gerga Ditargetkan Jadi Produk Unggulan Bengkulu

Ekbis  MINGGU, 31 MARET 2019 , 18:45:00 WIB | LAPORAN: TRI YULIANTI IMRAN

Jeruk Gerga Ditargetkan Jadi Produk Unggulan Bengkulu

Rohidin Mersyah Saat Petik Jeruk Gerga/RMOLBengkulu

RMOLBengkulu. Beberapa kunjungan kerja yang dilakukan oleh Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah, diantaranya meninjau kebun jeruk milik warga Desa Pal VII sekaligus memberikan bantuan bibit tanaman, untuk kelompok petani desa setempat di Kecamatan Bermani Ulur, Kabupaten Rejang Lebong, Sabtu (30/3) kemarin.

Jeruk gerga prospek yang menjadi komoditas unggulan Bengkulu ini menjadi alternatif sektor pertanian dan perkebunan. Rohidin Mersyah mengatakan jeruk gerga memiliki citra rasa sendiri dibandingkan jeruk lainnya. Terutama pada kulitnya yang tebal dan air jeruknya yang melimpah.

"Jeruk gerga ini kalo dilihat dari peluang bisnisnya, suatu hal yang sangat menjanjikan bila ada pengembangan komoditas jeruk gerga. Dimana nantinya, dapat menjadi produk unggulan dari Kabupaten Rejang Lebong dan Provinsi Bengkulu," kata Rohidin Mersyah.

Dilihat dari minat konsumen yang melakukan repeat order, jeruk ini harus kita kelola agar kuantitas dan kontinuitasnya tetap terjaga. Kemudian berdasarkan analisa Rohidin bahwa secara ekonomi, satu hektare kebun jeruk gerga dapat menghasilkan Rp 15-20 juta per bulannya dan ini tentunya sudah hasil yang cukup baik untuk ukuran petani.

"Peran pemerintah dalam hal ini tentu diperlukan untuk pengembangan komoditas jeruk gerga. Dalam budidaya pendekatan bisnisnya, peran pemerintah sangat diperlukan mulai dari sektor pemberian bibit, pupuk, serta pengolahan lahan. Dan Ini perlu mendapatkan bimbingan teknis yang baik dan benar," sambung Rohidin.

Tanaman jeruk gerga ini bisa menghasilkan buah dengan jumlah yang banyak dalam satu pohonnya. Namun, Itu tidak terlepas dari pemupukan dan metode perawatannya juga tidak instan. Ia juga menjelaskan untuk saat ini jeruk gerga sedang masuk dalam masa transisi. Dimana masa usaha ini untuk skala lokal, sudah melebihi. Namun pada skala nasional belum memadai.

"Untuk masuk skala nasional, belum mampu. Dari sisi volume komoditasnya, belum tersedia sepanjang waktu. Maka ini perlu adanya peran pemerintah, serta perlu luas tanam dalam peningkatan produktivitas per pohon dan satuan buah tanamnya," tutup Rohidin. [tmc]

Komentar Pembaca
Demokrat Masih Bersama Prabowo-Sandi

Demokrat Masih Bersama Prabowo-Sandi

JUM'AT, 19 APRIL 2019 , 21:00:00

Real Count KPU Lambat!

Real Count KPU Lambat!

KAMIS, 18 APRIL 2019 , 17:00:00

Jokowi: Jangan Jumawa, Tunggu Hasil Resmi KPU

Jokowi: Jangan Jumawa, Tunggu Hasil Resmi KPU

RABU, 17 APRIL 2019 , 19:00:00

Salam Dua Jari Prabowo

Salam Dua Jari Prabowo

RABU, 17 APRIL 2019 , 10:27:00