Dampak Pertarungan Dua Istri Nabi Ibrahim

Pendidikan  JUM'AT, 14 SEPTEMBER 2018 , 10:08:00 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

Dampak Pertarungan Dua Istri Nabi Ibrahim

Nasaruddin Umar/Net

ADALAH wajar jika kita membaca sejarah Nabi Ibra­him dari perspektif Israil po­sisi Siti Hajar terkesan tidak lebih baik dari Siti Sarah. Wajar pula jika kita mem­baca sejarah Nabi Ibrahim dari perspektif Arab posisi Siti Sarah tidak lebih baik dari Siti Hajar. Yang pasti keduanya adalah istri Nabi Ibrahim dengan masing-masing keunggu­lan dan keterbatasannya. Siti Sarah yang ber­darah Palestin dan Siti Hajar yang berdarah Af­rika. Siti Sarah bermukim di Palestina dan di sana ia mengembangkan keturunannya yaitu Nabi Ishaq dan Nabi Ya’qub. Turunannya ke­mudian melahirkan Nabi Musa yang memba­wa agama yahudi dengan kitab sucinya Kitab Taurat. Salahseorang turunannya juga berna­ma Nabi Isa yang membawa agama Nashrani, sekarang lebih dikenal dengan agama Kristen, dengan kitab sucinya bernama Injil (Bible). Se­dangkan Siti Hajar bermukim di Arab (Mekkah) dan disinilah ia membesarkan anaknya, Nabi Ismail. Turunannya kemudian melahirkan Nabi Muhammad Saw yang membawa agama Islam dengan kitab sucinya bernama Al-Qur'an.

Nabi Ibrahim sesungguhnya Nabi paling beruntung karena anak keturunannya menja­di Nabi dan sekaligus membawa agama dan kitab suci. Agama Yahudi, Nasrani, dan Islam sering disebut para orientalis dengan "Abraha­mic Religion" (Agama anak cucu Nabi Ibrahim). Jika para penganut ketiga agama ini mendala­mi sejarah genetik agamanya masing-masing maka niscaya mereka akan kompak. Ketiga pembawa ajaran agama Samawi ini berasal dari satu nenek yang sama. Sangat ironis jika antara sesama penganut "Abrahamic Religion" ini bermusuhan satu sama lain. Seharusnya mereka bersatu di dalam menghadapi gelom­bang peradaban baru yang sangat menantang inti ajaran agama ini. Namun kenyataannya, dalam lintasan sejarah ketiga agama ini selalu berhadap-hadapan bahkan bermusuhan satu sama lain. Sejarah kelam pernah mencatat ba­gaimana antara penganut agama Yahudi dan Kristen pernah bunuh-bunuhan. Bagaimana dahsyatnya Perang Salib yang pernah ber­langsung 250 tahun, antara penganut agama Kristen dan penganut agama Islam perang habis-habisan. Bagaimana Israel dan Palesti­na sampai sekarang masih terus berlangsung peperangan secara sporadis, padahal mereka masih satu turunan genetik.

Pertarungan antara Israel yang sering men­gusung bendera Yahudi dan penduduk Pales­tina yang juga sering mengusung bendera Is­lam terus saja berlangsung. Israel bagaikan tidak punya telinga untuk mendengarkan se­ruan badan-badan resmi dan tidak resmi in­ternasional agar menghentikan pembantaian dan pendudukannya ke tanah-tanah Palestina. "Perang Saudara" antara Israel dan Palestina jika diurut ke atas maka sesungguhnya meru­pakan jejak persaingan dua ibu atau dua istri. Istri pertama, Sitti Sarah, dibela oleh kelom­pok Yahudi-Israel dan istri kedua, Sitti Sarah, dibela oleh Muslim-Palestina. Kedua kelompok ini masing-masing mengklaim Yerusalem dan Palestina adalah tanah leluhur mereka. Sebet­ulnya masing-masing memiliki kebenaran se­bagai sama-sama anak cucu Nabi Ibrahim, tetapi kebenaran matril, dilihat dari perspektih hokum ketatanegaraan, Israel telah vertindak tidak adil terhadap muslim Palestina. Bukan hanya membantai penduduknay tetapi juga merampas tanah dan kekayaan alamnya.



Komentar Pembaca
Grup Tari Saman Tuna Netra Pecahkan Rekor MURI

Grup Tari Saman Tuna Netra Pecahkan Rekor MURI

KAMIS, 20 SEPTEMBER 2018 , 21:00:00

Koalisi Jokowi Mulai Pecah

Koalisi Jokowi Mulai Pecah

KAMIS, 20 SEPTEMBER 2018 , 17:00:00

#KataRakyat: Ulama Berpolitik, Emangnya Ngaruh?

#KataRakyat: Ulama Berpolitik, Emangnya Ngaruh?

RABU, 19 SEPTEMBER 2018 , 20:00:00

Advokat Antri Tanda Tangan

Advokat Antri Tanda Tangan

SELASA, 18 SEPTEMBER 2018 , 06:21:00

Pemuda Muhammadiyah Terima Silaturahim Sandi Uno

Pemuda Muhammadiyah Terima Silaturahim Sandi Uno

SABTU, 15 SEPTEMBER 2018 , 04:52:00

Tabut Dan Telong-Telong Sudah Siap Meriahkan Penutupan Tabut