Perempuan Hebat didalam Al-Qur'an(12)

Mengapa Istri Nuh Disebut Pengkhianat?

Pendidikan  SABTU, 08 SEPTEMBER 2018 , 12:30:00 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

Mengapa Istri Nuh Disebut Pengkhianat?

Nasaruddin Umar/Net

ADA dua perempuan (istri) yang secara eksplisit di da­lam Al-Qur'an disebut peng­khianat. Kedua perempuan itu ialah istri Nabi Nuh dan istri Nabi Lut. Keduanya dis­ebutkan dalam ayat: Allah membuat istri Nuh dan is­tri Lut perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat mem­bantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya); "Masuklah ke ner­aka bersama orang-orang yang masuk (neraka)". (Q.S. al-Tahrim/66:10).
Berita Terkait
Dampak Pertarungan Dua Istri Nabi Ibrahim
Siti Hajar Bukan Budak
Siti Sarah

Dalam ayat lain dipertegas lagi: : Allah mem­buat istri Nuh dan istri Lut perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka ked­ua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (ke­pada keduanya); "Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)". (Q.S. al- Taubah/66: 10).

Di dalam berbagai kitab tafsir dijelaskan bah­wa pengkhianatan istri Nuh bukan melakukan perbuatan yang tidak senonoh (al-fahsya) tetapi tauhidnya yang menyimpang. Kedua istri Nabi itu bukan pezina atau perempuan nakal secara moral tetapi akidah yang diyakininya.

Batu ujian bagi setiap hamba Tuhan berma­cam-macam. Ujian bagi Nabi Nuh dianugera­hi anggota keluarga yang pengkhianat. Anak laki-lakinya keras kepala yang sampai Al- Qur’an menyebutnya "Itu bukan keluargamu" (Q.S.Hud/11:47). Selain anaknya istrinya, yang dalam kitab-kitab Tafsir disebut Wa’ila atau Waliga, juga disebut pengkhianat, sebagaima­na dikatakan dalam Al-Qur'an di atas.

Nabi Nuh yang dikenal juga sebagai "Bapak manusia Kedua" (Abu al-Basyar al-Tsani) kare­na manusia lain semuanya binasa selain orang yang naik di atas perahunya ketika banjir Nuh menerpa bumi. Ujian Nabi Nuh berupa anggota keluarga keras kepala akhirnya mampu ia le­wati sungguhpun harus berakhir dengan tragis. Bermula ketika Nabi Nuh diminta membuat pe­rahu sebagai persiapan akan datangnya banjir raksasa. Allah berfirman: "Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang yang lalim itu; sesungguh­nya mereka itu akan ditenggelamkan.Dan mu­lailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh: "Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya dan yang akan ditim­pa azab yang kekal." Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: "Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jan­tan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang ber­iman." Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. (Q.S. Hud/11:37-40).

Perkembangan selanjutnya Nabi Nuh sudah kehilangan kesabaran lalu ia berdoa: "Ya Tu­hanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). (Q.S. Nuh/71: 6, 13). Akibatnya umat Nabi Nuh, ter­masuh anggota keluarga dekat, anak dan istrin­ya tidak luput dari musibah. "Disebabkan kesala­han-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah. (Q.S. Nuh/71:25). Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air maka bertemulah air-air itu un­tuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan. (Q.S. al-Qamar/54:11-12). Nabi Nuh pada akhirn­ya sadar akan keadaan yang menimpa diri dan kaumnya lalu ia berdoa: "Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang Ini sungguh pelajaran paling berharga bahwa sungguhpun seorang Nabi bukan jaminan akan memiliki anak dan keluarga yang ideal. Tantangan bagi kita bagaimana ujian itu harus dilulusi, sungguhpun ujian itu berasal dari keluarga paling dekat kita.

Komentar Pembaca
Hujan Sejak Subuh, Air Mulai Genangi Jalan

Hujan Sejak Subuh, Air Mulai Genangi Jalan

SELASA, 13 NOVEMBER 2018 , 19:50:00

Poster Rosjonsyah Mentereng Di Argamakmur

Poster Rosjonsyah Mentereng Di Argamakmur

KAMIS, 15 NOVEMBER 2018 , 10:11:00

Pimpin Rapat Tingkat Menteri

Pimpin Rapat Tingkat Menteri

JUM'AT, 09 NOVEMBER 2018 , 06:27:00