Mahasiswa Cerdasnya Ditangkap FBI, Ini Jawaban Kampus

Hukum  KAMIS, 15 MARET 2018 , 10:11:00 WIB | LAPORAN: IRMAN DINATA

Mahasiswa Cerdasnya Ditangkap FBI, Ini Jawaban Kampus

Net

RMOL. Publik di seantero Tanah Air terperangah. Bagaimana bisa tiga mahasiswa Indonesia yang kuliah di Surabaya, Jawa Timur, ditangkap oleh aparat The Federal Bureau of Investigation (FBI) yang merupakan biro investigasi Amerika Serikat (AS).

Rupanya ketiga mahasiswa ini ditangkap, Minggu (11/3), atas dugaan meretas 600 situs dan sistem di 44 negara. Pihak Kampus STIKOM Surabaya, tempat ketiganya menimba ilmu, mengakui bahwa mereka termasuk mahasiswa yang cerdas. Hal itu terlihat dari indeks prestasi (IP) akademiknya, yang rata-rata 3,0 ke atas.

Hal itu disampaikan Head of Public Relation Stikom Surabaya Sugiharto Adhi Cahyono, Kamis (15/3).

Ketiga mahasiswa yang ditangkap FBI dengan bantuan Cyber Crime Polda Metro Jaya ini adalah Katon Primadi Sasmitha (21) warga Jalan Kupang Krajan, Sawahan Surabaya, Nizar Ananta (21) warga Jalan Pucang Timur Gubeng Surabaya dan Arnold Triwardhana Panggau (21) asal Banyuwangi yang berdomisili di Krembangan.

Ketiga mahasiswa semester enam di Fakultas Teknologi dan Informatika Stikom ini diduga melakukan pembobolan 600 website dan meretas sistem di 44 negara dengan menggunakan metode SQL Injection untuk merusak database sistem.

Saat ini pihak Stikom masih menelusuri penyebab penangkapan terhadap ketiga mahasiswanya. Masalahnya, setelah penangkapan, pihak Stikom masih belum mendapat penjelasan baik pihak FBI maupun Polri, termasuk dari orangtua ketiga mahasiswa.

Kami baru tahu (penangkapan tiga mahasiswanya, Red) waktu mendapat kabar dari teman-teman wartawan. Ini juga belum ada konfirmasi dari Polda Jatim atau manapun yang menghubungi kami, sampai hari ini juga belum dimintai keterangan, kami masih menunggu itu,” ujarnya.

Disinggung soal sanksi yang bakal dijatuhkan terhadap ketiga mahasiswanya, Sugiharto mengatakan mengedepankan azas praduga tak bersalah.

Pihak Stikom akan mengikuti proses hukum. Setelah ada putusan yang berkekuatan hukum tetap, baru pihaknya bisa menentukan sikap.

Ia menjelaskan ketiga mahasiswa tersebut tergolong mahasiswa yang pintar dilihat dari IP-nya tiap semester, rata-rata di atas 3,00.

Sebenarnya mereka kalau dilihat dari segi nilai akademik memang pintar anaknya. Kalau dirata-rata ya tiga. Nanti kedepannya kami berupaya melakukan pendekatan untuk menyalurkan kepandaiannya itu biar disalurkan ke hal-hal positif,” jelasnya.

Anjik Sukmaaji, Dosen mata kuliah Jaringan Komputer di Prodi Sistem Informasi Stikom mengometari soal dugaan peretasan 600 situs dan sistem di 44 negara yang dilakukan oleh ketiga mahasiswanya.

Ini (peretasan, Red) dikarenakan keingintahuan mereka, dan untuk meretas web sekian banyaknya juga membutuh waktu yang lama ada beberapa tahapannya. Dia pastinya sudah mengumpulkan informasi terlebih dahulu. Mencari apa kelemahan pada sistem keamanan web tersebut. Jadi memang membutuhkan waktu yang panjang,” jelas Anjik.

Ia juga menjelaskan bahwa melakukan Hacker tujuannya banyak, adanya mencoba kemampuannya, ada juga yang hanya sekedar ingin tahu seberapa kebal sistem keamanan web tersebut. Namun, juga ada yang sekadar melihat-lihat saja.

Sebenarnya hacker itu adalah ahli program komputer yang menguji sistem informasinya. Sedang craker itu yang berbahaya karena merusak sistem informasi pada web,” imbuhnya.

Dari pihak Stikom juga telah memberi imbauan terhadap mahasiswa baru yang akan mendaftar untuk menandatangani surat pernyataan mengenai aturan dan norma yang berlaku di kampus tersebut.

Tidak hanya itu, pihak kampus juga telah memberikan berbagai macam pembekalan budi pekerti juga pembekalan soft skil dan hard skil-nya secara regular. Serta memberi pembekalan terhadap mahasiswanya untuk bermasyarakat.

Sugiharto menambahkan ketiga mahasiswa tersebut selama aktif di perkulihan tidak pernah melakukan tindak pelanggaran secara individu maupun pelanggaran etika.

Justru karena itu kami baru tahu waktu mendapat kabar dari teman-teman wartawan. Masih ini juga belum ada konfirmasi dari Polda Jatim atau manapun yang menghubungi kami, sampai hari juga belum dimintai keterangan, kami masih menungg itu," tutup Sugiharto dilansir RMOL Sumsel. [nat]




Komentar Pembaca