Hari Perempuan, Walhi Menyuarakan Hak-Haknya Atas Lingkungan Hidup Dan Keadilan

Daerah  KAMIS, 08 MARET 2018 , 14:58:00 WIB | LAPORAN: OGI MANSYAH

Hari Perempuan, Walhi Menyuarakan Hak-Haknya Atas Lingkungan Hidup Dan Keadilan

RMOL Bengkulu

RMOL. Dalam rangka memperingati Hari perempuan internasional Wahana lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Bengkulu megadakan  press conference Kamis,(08/03/2018)

Tepat pada tanggal 08 Maret 2018, Hari perempuan intemasional diperingati oleh seluruh masyrakat di berbagai belahan dunia terutama para perempuan. Hari perempuan internasional ini merupakan momentum bagi para perempuan menyuarakan aspirasi dan semangat perjuangan mereka.

Tidak ketinggalan menyambut moment baik ini, WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) secara nasional merayakan hari perempuan internasional begitu pula dengan WALHI Bengkulu.

Meike lnda Erlina, Manajer Kampanye Hak-hak Perempuan WALHI Bengkulu menyampaikan bahwa, Pada momentum hari perempuan internasional ini WALHI secara nasional menggalang kekuatan untuk memperkokoh gerakan perempuan melawan industri ekstraktif khususnya industri pertambangan dan PLTU Batubara. WALHI Bengkulu pun turut mengambil bagian dalam kampanye peringatan hari perempuan karena dalam skema perjuangan WALHI termaktub nilai keadilan gender.

"Perlawanan harus terus dilakukan mengingat dampak yang sangat signifikan dari adanya aktivitas pertambangan batu bara ini tidak hanya terjadi pada lingkungan dan masyarakat secara umum, tetapi juga terjadi kepada perempuan." kata Meike.

Ia melanjutkan, perempuan mengalami penderitaan dua kali lipat akibat dari aktivitas industri ekstraktif secara aspek sosial, budaya, ekonomi, lingkungan dan lainnya.

Akses dan kontrol terhadap sumber-sumber daya alam pun semakin sulit didapatkan perempuan. Mereka tidak hanya diusir dari lahan mereka, tetapi juga sumber daya yang digunakan untuk kebutuhan dasar mereka diabaikan bahkan dirusak. Sehingga tidak hanya kehilangan lahan, mereka juga kehilangan mata pencaharian.

Kondisi ini mengharuskan perempuan mencari alternatif lain agar bisa bertahan hidup. Mereka rela melakukan pekerjaan apapun termasuk beralih dari petani menjadi buruh di lahan mereka sendiri yang sudah dirampas oleh perusahaan. Namun penderitaan mereka tidak berhenti hanya sampai disitu.

"Ketika menjadi buruh, perempuan juga mengalami kekerasan, jam kerja yang lebih dan upah tidak seimbang hingga pelecehan seksual yang dilakukan baik sesama buruh maupun oleh pihak perusahaan," ujarnya.

Selain itu, masih kata Meike, industri pertambangan batu bara memberikan dampak terhadap kesehatan reproduksi. Pada aktivitas pertambangan yang secara brutal mengekspansi lahan, menyebabkan kualitas air tanah menurun dan polusi udara. Pembakaran batu bara menghasilkan ratusan juta ton produk padat limbah setiap tahun, kabut, gas buang desulfun'sasi lumpur yang mengandung merkuri, uranium, thorium, arsenik dan logam berat.

Kandungan-kandungan ini sangat berbahaya bagi kesehatan reproduksi perempuan. Selain itu kondisi air yang sudah tercemar menyebabkan perempuan kesulitan air bersih sehingga mengharuskan mereka berjalan lebih jauh lagi mencari air untuk memenuhi kebutuhan air bersih keluarga.

Banyaknya dampak yang diterima oleh perempuan ini tidak menjadi halangan dan menyurutkan semangat para perempuan untuk terus menyuarakan hak-haknya.Dampak-dampak yang mereka terima ini memunculkan kesadaran dalam diri perempuan untuk semakin kuat melawan penindasan-penindasan yang dilakukan baik oleh pemerintah maupun korporasi.

"Kesadaran perempuan muncul karena pengalamannya dalam merawat alam dan melakukan pengelolaan terhadap sumber-sumber daya alam. Untuk itu perjuangan para perempuan melawan industri ekstraktif ini patut diapresiasi dan dipublikasikan," jelasnya.

Berdasarkan hal tersebut WALHl secara nasional mendesak kepada pemerintah Jokowi-JK untuk:

1) Mengoreksi secara mendasar kebijakan ekonomi yang bertumpu pada indsutn ekstraktif yang telah merampas sumber-sumber kehidupan perempuan yang berujung pada pemiskinan struktural terhadap perempuan,

2) melakukan pemulihan atas hak-hak sosial budaya dan ekologis yang selama ini telah dihancurkan oleh pembangunan atas nama pembangunan ekonomi

3) Memberikan pengakuan dan perlindungan terhadap inisiatif perempuan dan komunitasnya dalam melindungi lingkungan hidup dan mengelola sumber-sumber agrananya yang kini semakin terancam oleh industri tambang

4)Menghentikan berbagai tindak kekerasan dan kriminalisasi terhadap perempuan yang memperjuangkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta melindungi perempuan pembela lingkungan hidup dan pejuang agraria dari serangan kekuatan korporasi

5) Melibatkan partisipasi perempuan secara bennakna dalam pengambilan kebijakan/keputusan dari tingkat desa hingga nasional

6) Mengakui dan memajukan pengetahuan dan pengalaman perempuan dalam mengelola lingkungan hidup dan sumber-sumber agraria.1

Pada kesempatan ini, WALHI Bengkulu juga melibatkan peran para seniman-seniman lokal, mahasiswa, akademisi dan berbagai pegiat isu-isu perempuan dan lingkungan untuk bersolidaritas dan mendukung upaya-upaya yang terus dilakukan oleh para perempuan yang memperjuangkan hak-haknya atas lingkungan hidup dan berkeadilan. [lia/ogi]

Komentar Pembaca
Heboh Pria Berpistol Di Jakarta Pusat

Heboh Pria Berpistol Di Jakarta Pusat

SABTU, 15 JUNI 2019 , 17:00:00

Harta Jokowi Bertambah 13 Miliar Dalam 13 Hari

Harta Jokowi Bertambah 13 Miliar Dalam 13 Hari

JUM'AT, 14 JUNI 2019 , 21:00:00

Pesan Danyon Brimob H-1 Jaga MK

Pesan Danyon Brimob H-1 Jaga MK

KAMIS, 13 JUNI 2019 , 21:00:00

Warga Mancing Di Kubangan Jalan

Warga Mancing Di Kubangan Jalan

MINGGU, 23 JUNI 2019 , 20:16:00