Kisah Tenggelamnya Dusun Tras Mambang Dan Terbentuknya Keramat Bingin Kuning

Daerah  SENIN, 19 FEBRUARI 2018 , 19:04:00 WIB | LAPORAN: ALEXANDER

Kisah  Tenggelamnya  Dusun Tras Mambang Dan Terbentuknya Keramat Bingin Kuning

RMOL Bengkulu

RMOL.  Tak semua warga Lebong tahu asal-usul keramat beringin kuning. Meskipun demikian, keramat Beringin Kuning dahulu sering dibanjiri peziarah leluhur rejang.  Kompleks  keramat tersebut merupakan situs sejarah tenggelamnya  Dusun Tras Mambang kisaran tahun 1617-16 40 masehi. Dimana lokasi itu sekarang dinamakan Desa Bungin, Kecamatan Bingin Kuning, Kabupaten Lebong, Propinsi Bengkulu. Cagar Budaya Keramat Beringin Kuning secara administratif terletak di Desa Bungin, Kecamatan Bingin Kuning, dengan jarak tempuh kurang lebih 15 Km dari pasar Muara Aman.

Menurut tokoh adat  yang akrab disapa Ukal, yang kebetulan salah seorang guru Silat Rejang (Silek Jang) penduduk setempat. Lokasi  Keramat Beringin Kuning saat ini menjadi situs keramat bagi leluhur Marga Sukau (Suku) VIII untuk pelaksanaan  Kedurai Apem.  Ternyata keramat ini merupakan peninggalan dari sembilan bersaudara yaitu, Rio Cende, Rio Cili, Rio Mamboa, Rio Ulung, Rio Guting, Rio Bas, Rio Pijar, Putri Bunga Melur dan Bujang Ringki (anak peberian Ki Pandan).

Kala itu ketujuh saudaranya pergi ke kerajaan seberang (Palembang) dengan tujuan mengikuti sabung ayam. Sesampainya di sana, mereka diterima  baik oleh  para kesultanan di Palembang. Dalam pertandingan,   ketujuh ayam bersaudara ini menang telak.  Atas kemenangan itulah, diantara tujuh bersaudara yakni Rio Cende  membawa pulang kemenangannya ke Dusun Tras Mambang berupa ikan  Seluang (Sebutan ikan orang rejang) bersisik warna kuning emas.

Suatu hari kemenangan itu akhirnya dirayakan bersama penduduk setempat (Marga Suku VIII Rejang). Mereka akan mengadakan pertunjukkan, termasuk tarian Kejai (Kejei)  selama sembilan bulan. Namun, tarian Kejai yang satu ini agak berbeda dengan tarian kejai dari marga sukau (suku)  rejang lainnya.

Sebab, dalam cerita disebut Ukal,  jika tarian kejai milik Marga Sukau VIII  yang terbaik dari marga lainnya. Kondisi inilah yang akhirnya membuat mereka menjadi terlalu berlebihan dan saling berlawanan sesama Marga Sukau VIII.  Mendegar akan adanya perayaan besar selama sembilan bulan, saudara dari Rajo Bang Bermani dari Kutai Rukam (Tes) yakni Tahta Sekilan Teguling Sakti tertarik untuk hadir dalam perayaan itu, meskipun tak diundang secara resmi oleh Rio Cende.

Sehari perayaan berlangsung, Rio Cende  berpesan kepada  Tahta Sekilan Teguling Sakti, supaya  jangan datang lagi  ke Dusun Tras Mambang.  Lalu, Tahta Sekilan Teguling Sakti setiba dirumah pun  menceritakan situasi Dusun Tras Mambang kepada saudaranya yang bernama Tahta Tunggal.  Oleh saudaranya, Tahta Tunggal akhirnya bersih keras melarang Tahta Sekilan Teguling Sakti  untuk kembali ke  Dusun Tras Mambang.

Namun, pesan itu justru tidak dihiraukan dan keesokan harinya  Tahta Sekilan Teguling Sakti  kembali  Dusun Tras Mambang. Pada pertengahan jalan tepatnya di Air Tik Tiub, Ia (Tahta Sekilan Teguling Sakti)   menyamar dengan mengganti pakaiannya yang terbuat  dari kulit kayu (Baju Khas Rejang = Teeb) dan persis menyerupai orang buruk rupa.

Dilokasi acara  tak ada seorang pun yang peduli terhadap dirinya. Dengan sikap acuh dan sinis mereka mengusir dirinya dari pesta dengan paksa karena dianggap pengemis yang menjijikkan dan memalukan. Meskipun dalam keadaan lapar, ia tetap bertahan di depan balai hingga ia bertemu dengan seorang nenek  tua yang baik hati.

Tahta Sekilan Teguling Sakti berkata pada nenek tua itu Nek saya lapar, saya minta makan” dan nenekpun menjawab Ya cung, nenek minta maaf, jangankan nasi beraspun tidak ada dirumah nenek”. Kemudian Tahta Sekilan Teguling Sakti kembali melanjutkan perkataannya, Dirumah nenek sebenarnya serba ada nek, nasi dan sayur nenekpun banyak”.

Si nenek pun menarik tangan Tahta  Sekilan Teguling Sakti untuk menuju kerumahnya, dengan maksud membuktikan bahwa nenek itu tidak  berbohong. Aneh bin ajaib, ternyata  dapur sang nenek  yang awal mulanya kosong tiba-tiba  ada nasi  lengkap dengan sayur-sayurnya.

Tahta Sekilan Teguling Sakti kembali  berkata pada sang nenek kalau stok  beras nenek itu masih banyak.  Lagi  si nenek terkejut setelah melihat dirumahnya Tujuh Slebau Belas (Tempat Penyimpanan Beras Orang Rejang Dulu) dipenuhi dengan beras.

Akhirnya sang nenek itu memperlakukan dirinya seperti tamu yang layak dihormati dan kembali menyiapkan hidangan. Di rumah sang nenek, oleh Tahta Sekilan Teguling Sakti berpesan menceritakan kepada sang nenek untuk tidak pergi kemana - mana lagi. Hal ini mengingat,  dalam waktu dekat  Dusun Tras Mambang disebutnya akan segera tenggelam.

Kemudian,  dirinya  pergi keluar mengambil Lesung (alat penumbuk padi) dan meletakkan Lesung tersebut diatas Ga’ang (tempat mencuci orang Rejang zaman dulu) untuk diduduki oleh sang nenek, dengan tujuan selamat dari ancaman banjir.  Sebelum meninggal rumah sang nenek, ia berpesanKalau terdengar suara gemuruh nenek harus siapkan lesung, agar selamat!”. Nenek pun akhirnya menuruti saran anak itu.

Sesaat kemudian, Tahta Sekilan Teguling Sakti  kembali menghampiri  keramaian dengan membawa tujuh batang lidi.  Tepatnya didepan balai,  Tahta  menancapkan tujuh batang lidi ke tanah sambil menantang siapa penduduk setempat yang bisa mencabutnya. Bahkan, tak satupun  yang mampu mencabut lidi itu dan akhirnya ia sendiri mencabutnya.

Ternyata, lubang tancapan tadi memuncul mata air yang deras  makin besar dan menggenangi desa itu. Lama kelamaan air ini kian membesar disertakan hujan lebat dan angin rebut. Oleh sebab itu,  akhirnya Dusun Tras Mambang yang diceritakan Tahta Sekilan Teguling Sakti benar-benar tenggelam. Setelah tenggelamnya Dusun Tras Mambang tersebut, Tahta Sekilan Teguling Sakti pun hilang (raib). Sementara nenek yang tadinya duduk di atas Lesung hanyut dan selamat dari terjangan air.

Sementara itu,  saudara Rio Cende yakni  Rio Pijar saat itu kebetulan dalam perjalanan ingin meninggalkan tanah Rejang atau tepatnya di Bukit Besar (Namanya sekarang Tebo Lai) menyaksikan kalau Dusun Tras Mambang tempat saudaranya tinggal sudah tenggelam.

Rio Pijar sendiri sesegera mungkin bermaksud  ingin menyelamatkan warga Dusun Tras Mambang. Usahanya sendiri dengan cara membawa sebatang Manau  yang ia ambil dari Tebo Lai. Setiba dilokasi  Dusun Tras Mambang, rencana penyelamatan pun gagal. Sebab, air yang sudah melambung besar dan tak dapat elakkan lagi.

Untuk mengukur kedalaman air, Rio Pijar menancapkan Manau ke dasar mata air.  Saat Manau tersebut di angkat ke atas permukaan air,  banyak penduduk Tras Mambang tersangkut dan terangkat dengan kondisi yang mengenaskan, yakni muka (wajah) telah pindah ke belakang dan tumit mereka juga telah pindah ke depan.

Pada saat itu, penduduk yang berhasil diangkatpun masih sempat bicara dan berkata pada pada Rio Pijar Hai tuanku Rio Pijar, pergilah kamu karena kami tidak akan kembali lagi".  Percakapan kembali dilanjutkan dengan berpesan kepada Rio Pijar, Ya Tuanku Rio Pijar, kalau bumi sedang kacau suasana kampung panas datangilah tempat kami, dimana terdapat tanda satu batang pohon Beringin, berserta Serai Kunyit tumbuh di samping Beringin itu, setelah sesampainya disana panggillah kami bawalah cara adat kita tari Kejai  beserta tujuh diwo beserta Apem yang dimaksudkan untuk penyelamat dan Tolak Balak”.

Inilah menurut cerita penduduk  setempat kenapa masih perlunya menjaga tradisi Kedurai Apem. Selain itu, menurut cerita Ukal, tenggelamnya Dusun Tras Mambang awal mulanya kemunculan seekor ular mondar mandir hilir-mudik melewati aliran air sungai itu. Pada kesempatan yang sama, tuanku Rajo Megat memotong ular menjadi tujuh dengan sebuah keris yang menurutnya masih bisa dilihat di Desa Pungguk Pedaro, Kecamatan Bingin Kuning (Pusaka Pungguk Pedaro).

Setelah dipotong menjadi tujuh,  ular tersebut kembali menyatu dan menjadi Ular kepala tujuh. Pesan Rajo Megat kala itu,  Jika air ini merusak atau menyebabkan musibah, hendaklah memotong kambing hitam dua ekor untuk sebagai permohonah maaf dan tolak balak kepada ketua atau penguasa Tebo Lai”.

Pantauan RMOL Bengkulu,  dilokasi Desa Bungin, Kecamatan Bingin Kuning, Kabupaten Lebong, Propinsi Bengkulu, atau tepatnya di Pasir Lebar terdapat pohon keramat biasa di sebut warga sekitar dengan pohon Beringin. Pohon Beringin itu digunakan sebagai tempat lokasi  untuk pelaksanaan Kedurai Apem. Kedurai itu biasanya diadakan setahun sekali. Tempat itu dipercayakan para warga sebagai tempat ritual adat untuk mengingat leluhur dan tolak balak. Syaratnya adalah dengan membawa Apem (Kue)  dan ada niat yang baik, serta dengan nazar, dsb.

Proses kedurai apem itu sendiri dengan membawa bahan sesajen lainnya ke lokasi. Setelah sampai ke lokasi apem itu didoakan terlebih dahulu dan dibagikan kepada orang-orang yang menyaksikan tradisi tersebut. Dan yang ikut dalam pembuangan apem ini adalah Ketua adat, tokoh, masyarakat dan lain-lain, yang ingin menyaksikan proses kedurai apem itu sendiri. Dalam kedurai apem ini ada beberapa desa di dua Kecamatan yang harus terlibat dalam ritual adat ini.

Namun, banjir bandang belakangan ini justru menghayutkan bangunan keramat beringin kuning  tempat warga biasa melaksanakan kedurai Apem. Kondisi inilah dikhawatirkan dapat mengancam kepunahan terhadap Keramat Beringin Kuning tersebut. [ogi]

Komentar Pembaca
Grup Tari Saman Tuna Netra Pecahkan Rekor MURI

Grup Tari Saman Tuna Netra Pecahkan Rekor MURI

KAMIS, 20 SEPTEMBER 2018 , 21:00:00

Koalisi Jokowi Mulai Pecah

Koalisi Jokowi Mulai Pecah

KAMIS, 20 SEPTEMBER 2018 , 17:00:00

#KataRakyat: Ulama Berpolitik, Emangnya Ngaruh?

#KataRakyat: Ulama Berpolitik, Emangnya Ngaruh?

RABU, 19 SEPTEMBER 2018 , 20:00:00

Advokat Antri Tanda Tangan

Advokat Antri Tanda Tangan

SELASA, 18 SEPTEMBER 2018 , 06:21:00

Pemuda Muhammadiyah Terima Silaturahim Sandi Uno

Pemuda Muhammadiyah Terima Silaturahim Sandi Uno

SABTU, 15 SEPTEMBER 2018 , 04:52:00

Tabut Dan Telong-Telong Sudah Siap Meriahkan Penutupan Tabut