Dunia Pendidikan Indonesia Masih Sarat Kriminalisasi dan Diskriminasi

Pendidikan  SENIN, 08 JANUARI 2018 , 06:53:00 WIB | LAPORAN: IRMAN DINATA

RMOL. Dunia pendidikan Indonesia dianggap masih sarat dengan kriminalisasi dan diskriminasi. Karena itu, untuk memperoleh pendidikan yang berkeadilan, yang beradab dan mencerdaskan kehidupan anak-anak bangsa, semua pengalaman buruk di dunia pendidikan mestinya juga bisa dituangkan dalam bentuk buku, agar bisa dipergunakan untuk bahan mencari solusi dan membangun dunia pendidikan Indonesia yang lebih baik lagi.

Penulis Buku Pengabaian Dunia Pendidikan, Ricardo Fernando Pangaribuan menyampaikan, buku yang ditulisnya adalah pengalaman langsung yang dialaminya ketika menempuh perkuliahan.

Hal itu disampaikan Ricardo dalam testimony dan peluncuran buku ini yang difasilitasi oleh Dewan Pimpinan Pusat Serikat Rakyat Indonesia (DPP SERINDO), di Jakarta, Minggu (7/1/2018) dilansir Kantor Berita Politik RMOL.

Dalam pemaparannya Ricardo menyampaikan bahwa apa yang dialami merupakan cermin ketidakadilan di dunia pendidikan. "Dan itu saya yakini banyak terjadi juga di kampus-kampus di seluruh Indonesia,” tutur Ricardo.

Sebelumnya Ricardo menyampaikan bahwa dia di Drop Out secara sepihak oleh STT HKBP Pematang Siantar, Sumatera Utara. Pihak STT HKBP melakukan DO tanpa landasan yang jelas. Alasan pihak STT HKBP melakukan DO sepihak karena Ricardo melakukan tindak kekerasan terhadap mahasiswa baru STT HKBP Siantar.

Di tempat yang sama, Peneliti Bidang Pendidikan di Puslit Kependudukan LIPI Anggi Afriansyah menyampaikan, sebagai sebuah opini dan testimony, buku itu pasti mengandung subjekvifitas.

"Ricardo sangat tekun dan getol memperjuangkan ketidakadilan yang dialami penulis. Terkait buku ini, saya lebih melihat bahwa ada kemacetan dalam dialog. Padahal dalam dunia pendidikan, dialog merupakan salah satu yang fundamental,” tutur Anggi.

Memang, lanjut dia, bukan hanya di dunia pendidikan Indonesia saat ini terjadi kemandegan, kemacetan dialog semacam ini dalam konteks nasional sedang terjadi baik dalam aspek politik, hukum dan lainnya.

"Dalam dunia pendidikan dialog merupakan proses mendengarkan dan didengarkan. Relasi yang dijalin bukan memposisikan anak didik sebagai yang sub ordinat dan pendidik sebagai yang selalu dominan,” ujarnya.

Dia melanjutkan, dalam dialog relasi yang dibangun adalah suasana akrab yang egaliter dimana pendidik dan anak didik memiliki posisi yang setara. Pendidik mengasihi, anak didik menghormati, keduanya patut saling mendengar.

"Dalam konteks kasus yang dialami oleh Ricardo apakah dialog ini sudah berjalan?” tanya Anggi.

Sebelum kasus ini terjadi, Ricardo terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Senat Mahasiswa STT HKBP Siantar. Ketika kasus ini mulai terjadi secara sepihak juga STT HKBP Siantar tidak melantik Ricardo sebagai Ketua Senat Mahasiswa STT HKBP.

Anggi menyampaikan, setelah dirinya membaca tuntas buku ini, setidaknya ada dua kesan yang didapatkan. Pertama, perjuangan penulis yang tak kenal menyerah untuk memperjuangkan keyakinannya untuk mendapatkan keadilan. Kedua, pemahaman mendalam dan beragam kegelisahannya mengenai dunia pendidikan.

"Penulis menuliskan buku ini dengan semangat melawan. Melawan karena merasa mendapatkan pelakuan tidak adil dari almamater yang dia cintai. Ia melawan bahkan ketika ia diabaikan oleh almamaternya,” ujar Anggi.

Dia menekankan bahwa sekolah merupakan ruang dialog. "Saya pernah menuliskan secara khusus mengenai sekolah sebagai ruang dialog di Koran Jawa Pos sekitar tahun 2015 silam. Oleh karenanya saya sependapat dengan argumentasi penulis bahwa sekolah merupakan arena di mana dialog perlu diutamakan,” ujarnya.

Dalam dialog, lanjut dia, jelas ada dua pihak yang tak hanya bicara satu arah. Ada dua arah pembicaraan dalam proses dialog. Ada proses mendengarkan dan didengarkan. Relasi yang dijalin bukan memosisikan anak didik sebagai yang subordinat dan pendidik sebagai yang selalu dominan. Relasi yang dibangun adalah suasana akrab yang egaliter. Pendidik dan anak didik memiliki posisi yang setara. Pendidik mengasihi, anak didik menghormati. Keduanya patut saling mendengar.

Sebab, pendidikan bukan sekadar soal transfer pengetahuan dari guru/dosen ke siswa/mahasiswa. Pendidikan melampaui soal itu semata. Pendidikan adalah ruang di mana ada dialog yang konstruktif antara guru dengan siswa, juga siswa dengan siswa.

"Dialog hanya bisa terbentuk ketika ada rasa saling percaya. Dialog adalah kunci keberhasilan pendidikan yang manusiawi sebab memosisikan kesederajatan yang sama antara guru dan siswa,” ujarnya.

Dialog hanya mungkin dilakukan ketika kedua belah pihak sepakat untuk terbuka menyampaikan setiap permasalahan yang hadir. Tanpa itu, kesemuanya hanya jadi monolog semu.

"Ini bukan perkara mudah. Membiasakan dialog bukanlah semudah membalikan telapak tangan. Orang-orang dewasa seringkali memosisikan diri sebagai yang tahu segalanya. Sehingga seringkali, argumen yang diajukan oleh anak-anak dianggap sebatas angin lalu yang tak perlu didengar dengan seksama,” tandasnya. [nat]



Komentar Pembaca
PAN Setuju Dana Saksi Dibiayai APBN

PAN Setuju Dana Saksi Dibiayai APBN

KAMIS, 18 OKTOBER 2018 , 17:00:00

Jokowi-Ma

Jokowi-Ma"ruf Diduga Curi Start Kampanye

KAMIS, 18 OKTOBER 2018 , 13:00:00

#KataRakyat: Jangan Kampanye Negatif

#KataRakyat: Jangan Kampanye Negatif

RABU, 17 OKTOBER 2018 , 19:00:00

Kantor Berita Politik RMOL Dikunjungi Karo Penmas Mabes Polri
Sumbangkan Emas Dan Perunggu

Sumbangkan Emas Dan Perunggu

SABTU, 13 OKTOBER 2018 , 20:53:00

PAN Setuju Uang Saksi Pemilu Dibiayai Negara

PAN Setuju Uang Saksi Pemilu Dibiayai Negara

KAMIS, 18 OKTOBER 2018 , 13:30:00