Angka Penyandang Psikosis Terpasung Masih Tinggi Di Bengkulu Selatan

Daerah  JUM'AT, 03 NOVEMBER 2017 , 18:19:00 WIB | LAPORAN: SUGIHARTO PURNAMA

Angka Penyandang Psikosis Terpasung Masih Tinggi Di Bengkulu Selatan

Foto/RMOL Bengkulu

RMOL. Dinas Sosial Kabupaten Bengkulu Selatan terus mengupayakan pengevakuasian terhadap penyandang psikosis yang masih terpasung. Berdasarkan hasil pendataan Januari hingga Oktober 2017, tercatat ada 154 orang penderita disabilitas mental yang dipasung dan sebanyak 29 orang telah dievakuasi.

Para penderita disabilitas mental ini tersebar di 11 kecamatan di kabupaten setempat.

"Berdasarkan data itu, Dinsos sudah mengevakuasi 29 orang. Kami membawa mereka ke RSJKO Suprapto guna diberikan perawatan intensif," ujarnya Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bengkulu Selatan Diah Winarsih, Jumat (3/11).

Ia menjelaskan, bahwa tidak mudah membebaskan penyandang psikosis yang dipasung. Dari beberapa kali pihaknya mendatangi korban, keluarga menolak untuk dilakukan evakuasi.

"Mereka tidak rela korban pemasungan dibawa ke rumah sakit lantaran takut dikenakan biaya. Padahal pemerintah memberikan bantuan pendanan bagi penyandang psikotis melalui asurasi kesehatan," katanya.

Psikosis merupakan masalah mental serius yang ditandai dengan kemunculan gejala utama berupa delusi dan halusinasi. Penderita kondisi ini akan memandang kenyataan secara abnormal.

Ketika gejala delusi menguasai diri, maka penyandang psikosis akan meyakini sesuatu pada kenyatannya tidak benar. Semisal, korban merasa ditakuti atau merasa terancam oleh kehadiran orang-orang di sekitarnya. Sementara gejala halusinasi akan membuat penyandang psikosis seolah merasakan, melihat atau mendengar sesuatu yang tidak nyata.

Diah Winarsih mengungkapkan, faktor genetika dalam evolusi sifat manusia dan lingkungan menjadi penyebab munculnya gangguan tersebut.

"Faktor genetika berperan dalam proses penurunan sifat pada anggota keluarga. Di lapangan, kami pernah menemukan kasus dalam satu keluarga terdapat dua penyandang psikosis. Isolasi sosial, keterbatasan ekonomi dan rendahnya tingkat pendidikan turut memperburuk keadaan mereka," ujarnya.

Semantara itu Bupati Kabupaten Bengkulu Selatan Dirwan Mahmud mengklaim, banyaknya kasus penyandang psikosis yang dipasung di daerahnya juga dipicu lantaran ketidakpekaan aparat desa dalam menyikapi berbagai masalah sosial di lingkungan masyarakat.

"Ada yang dipasung di WC, bahkan di bawah pohon hingga bertahun-tahun. Kepala desa mesti peka dalam memfasilitasi dan menyelesaikan persoalan sosial di masyarakat, padahal pemerintah daerah selalu menganggarkan dana alokasi desa," pungkas Dirwan Mahmud.

Evakuasi penyandang psikosis di Bengkulu Selatan merupakan implementasi program pemerintah pusat dalam mewujudkan Indonesia Bebas Pasung 2019. Program ini dicanangkan supaya masyarakat mengedepankan perawatan medis bagi penderita gangguan mental, bukan pemasungan. [Y21]



Komentar Pembaca
BENANG MERAH (EPS.159): Anies Terlalu Lama Sendiri
Densus 88 Tembak Dua Terduga Teroris Tanjung Balai

Densus 88 Tembak Dua Terduga Teroris Tanjung Balai

JUM'AT, 19 OKTOBER 2018 , 15:00:00

PAN Setuju Dana Saksi Dibiayai APBN

PAN Setuju Dana Saksi Dibiayai APBN

KAMIS, 18 OKTOBER 2018 , 17:00:00

Kantor Berita Politik RMOL Dikunjungi Karo Penmas Mabes Polri
PAN Setuju Uang Saksi Pemilu Dibiayai Negara

PAN Setuju Uang Saksi Pemilu Dibiayai Negara

KAMIS, 18 OKTOBER 2018 , 13:30:00

Pelantikan PAW MPR

Pelantikan PAW MPR

JUM'AT, 19 OKTOBER 2018 , 09:51:00