Guru dan Pejabat Diknas Diwanti-wanti Tidak Gabung Timses Pemenangan

Nusantara  JUM'AT, 11 AGUSTUS 2017 , 17:54:00 WIB

Guru dan Pejabat Diknas Diwanti-wanti Tidak Gabung Timses Pemenangan

Ilustrasi/Net

RMOL. Para guru dan pejabat dinas pendidikan daerah diwanti-wanti untuk tidak terlibat dalam tim sukses (Timses) pemenangan pemilu dan Pilkada serentak tahap dua yang berlangsung 2018 mendatang.

Koordinator Advokasi dan Investigasi Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Nailul Faruq mengungkapkan, melalui portal pengaduan JPPI di www.laporpendidikan.com, pihaknya menerima sejumlah kasus-kasus pendidikan mulai dari kasus pungutan liar, bullying, dan kasus politisasi guru jelang pilkada.

Pihaknya juga telah menerima pengaduan dari masyarakat kota Palembang terkait keterlibatan sejumlah Kepala Unit Dinas Pendidikan Kota Palembang, Pengurus PGRI Palembang dan Kepala Sekolah SMPN Palembang dalam timses Pemenangan Pilkada. Mereka juga ikut serta dalam kegiatan peresmian Timses Palembang Pintar yang dilaksanakan oleh pihak calon incumben.

"Kami sedang mengumpulkan bukti-bukti tersebut, dan akan segera kami laporkan langsung kepada Kementerian terkait dan Pengurus Besar PGRI, bahwa ada keterlibatan pejabat Diknas dan Pengurus PGRI yang terlibat langsung dalam tim pemenangan Pilkada," jelas Nailul di Jakarta, Jumat (11/8).

Menurut dia, potensi pelanggaran pilkada pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan modus pemilu pada umumnya. Pelanggaran yang sering terjadi adalah keterlibatan peran guru atau pejabat Dinas Pendidikan daerah dan organisasi guru yang semestinya berlaku independen.

"Politisasti guru memang sangat rawan terjadi. Namun, pelanggaran kasus tersebut jarang mendapat perhatian sehingga luput dari penegakan hukum pemilu. Guru memang memegang posisi pengaruh yang strategis. Dan hal tersebut membuat mereka potensial digerakkan untuk berpartisipasi dalam kampanye yang menguntungkan salah satu calon, umumnya pada calon incumbent," jelas Nailul.

Keterlibatan guru dan Dinas Pendidikan maupun organisasi guru kadang dapat berubah dari partisipan menjadi bagian dari "Tim Kampanye" secara langsung atau tidak langsung. Atau menggunakan kewenangan yang melekat padanya untuk mendukung calon tertentu.

"Politisasi guru memang bukan suatu yang baru. Misalkan,  para guru yang bisa naik pangkat seperti bekerja di dinas pendidikan apabila berhasil memenangkan calon kepala daerah. Jika tidak, mereka bisa kehilangan jabatannya sendiri," jelas Nailul.

Dalam UU 14/2005 tentang Guru dan Dosen mengamanatkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik.

"Institusi pendidikan dan oganisasi guru itu sebagai tempat membina manusia agar bermartabat dan bermoral, tidak direduksi sebagai instrumen transaksi politik. masyarakat juga harus melaporkan apabila ada keterlibatan guru dalam timses pemenangan pemilu," pungkasnya. [Y21/Rmol]

Komentar Pembaca
Liburan Seru dengan Angkutan Umum

Liburan Seru dengan Angkutan Umum

SABTU, 16 DESEMBER 2017 , 09:00:00

Jika Langgar Aturan, Jangan Harap Ada DWP Lagi!

Jika Langgar Aturan, Jangan Harap Ada DWP Lagi!

JUM'AT, 15 DESEMBER 2017 , 15:00:00

AM Fatwa Sang Pejuang Sejati

AM Fatwa Sang Pejuang Sejati

KAMIS, 14 DESEMBER 2017 , 13:00:00