Novel Tunjuk Hidung Jenderal Kasus Penyiraman Air Keras

Hukum  KAMIS, 15 JUNI 2017 , 13:03:00 WIB

Novel Tunjuk Hidung Jenderal Kasus Penyiraman Air Keras

Novel Baswedan/Net

RMOL. Dua bulan hampir berlalu, kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan belum terungkap. Di saat kasusnya yang buram, Novel yang Penyidik KPK ini justru melempar bola panas. Dia menuding ada jenderal yang terlibat dalam kasus teror yang menimpa dirinya itu. Jenderal di kepolisian langsung memberikan jawaban.

Tudingan Novel disampaikan saat diwawancarai media internasional TIME di sebuah rumah sakit di Singapura, Sabtu (10/6). Wawancara dengan TIME menjadi yang pertama bagi Novel sejak insiden penyiraman air keras pada 11 April. Matanya kini masih dalam proses penyembuhan. Novel mengaku pandangan matanya masih samar-samar. Ada kacamata pelindung menempel di wajahnya. "Ada begitu banyak korupsi yang harus dilawan," ujarnya, mengawali berita artikel berjudul 'I Don't Want to Be Sad': Indonesia's Top Graft Buster Talks to TIME From His Hospital Bed itu.

Novel kemudian menceritakan kronologi penyiraman air keras yang dialaminya setelah pulang dari masjid di dekat rumahnya. Dia bilang, kejadiannya begitu cepat. Novel sempat berharap itu hanya cairan biasa. Namun, harapan tinggal harapan.

"Kulitku terasa terbakar kepanasan," kata Novel yang duduk di pinggiran tempat tidurnya selama wawancara berlangsung. Novel lantas kembali ke masjid untuk meminta pertolongan. Jemaah salat subuh yang masih ada di masjid lantas membasuh wajah Novel dengan air wudhu.

Teror ini, adalah teror keenam yang diterima Kasatgas kasus mega korupsi e-KTP ini sejak dirinya menjadi penyidik KPK pada 2011. Novel mengaku cukup heran mengapa kepolisian belum berhasil menangkap pelaku penyiraman air keras terhadap dirinya. Sebab, sebagai eks anggota kepolisian dengan pangkat terakhir Komisaris Polisi (Kompol), Novel tahu betul cara kerja mereka.

Di sinilah, dia menuding adanya jenderal polisi yang terlibat dalam kasus teror itu. "Saya menerima informasi bahwa seorang jenderal polisi terlibat. Mulanya saya menganggap informasi itu salah. Tapi sekarang setelah dua bulan kasusnya tak terselesaikan, saya bilang (ke pemberi informasi itu), rasanya informasi itu benar," tuturnya.

Novel mengaku sudah tahu bahwa Presiden Jokowi menginstruksikan prioritas penyelidikan atas kasusnya. Dia berharap, Presiden mengevaluasi perkembangan penyelidikan kasus ini yang telah berjalan dua bulan lamanya tetapi belum mengungkap seorang pun tersangka. Dia menyebut, jika ada seorang pegawai pemerintahan dengan tugas memerangi korupsi diserang berkali-kali dan tak ada kasus yang terpecahkan, berarti ini menjadi masalah bagi negara. "Setelah saya, siapa lagi?" tutur Novel.

TIME menyebut Novel sebagai seorang penyidik KPK yang tidak pantang menyerah demi menjalankan tugas-tugasnya memerangi korupsi. Reputasi ini membuatnya menjadi target kekerasan dari pihak-pihak yang merasa dirugikan KPK. Tapi, Novel mengaku tidak takut. "Saya tidak mau bersedih hati," ujar Novel sambil tertawa. "Kapanpun kita berkomitmen melawan (korupsi) demi rakyat, demi orang banyak, maka hasilnya kita bisa dimusuhi, diserang," jelasnya. Karena itu, Novel sangat berkeinginan untuk dapat kembali pulih sehingga bisa meneruskan pekerjaan-pekerjaannya di KPK.

Dikonfirmasi soal tudingan Novel, Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto meminta Novel menuangkan keterangannya dalam BAP. "Jadi begini, Novel itu kalau ada informasi tolong dituangkan di dalam BAP, diceritakan di dalam BAP. Karena jika tidak, percuma saja, tidak ada nilainya di mata hukum. Tidak projusticia," ujar Setyo, kemarin.

Imbauan yang sama disampaikan Kabag Penum Polri Kombes Martinus Sitompul. Menurutnya, informasi yang dianggap penting oleh Novel seharusnya disampaikan kepada penyidik. "Supaya tidak terjadi sebuah tendensi atau tudingan karena informasi itu kan harus diuji," ucapnya, kemarin. Jika Novel mengungkapkannya kepada penyidik, pihaknya akan menindaklanjuti. "Kita akan selidiki benar nggaknya. Dari mana alur-alurnya, fakta-fakta apa yang mendukung pernyataan itu," tuturnya.

Mabes Polri sudah turun tangan untuk memandu penyidik Polda Metro Jaya dalam penanganan kasus ini. Kasus ini tidak dilimpahkan, tetap ditangani penyidik Polda Metro Jaya. "Kita sudah mulai turun ya (memandu) penyidik PMJ. Sepertinya kita akan lebih intens lagi memback-up supaya cepat terungkap," kata Karo Penmas Polri Brigjen Rikwanto di kantornya, kemarin.

Terpisah, Ketua KPK Agus Rahardjo enggan mengomentari tudingan penyidiknya itu. Dia menegaskan, KPK masih mempercayakan penanganan kasus teror itu kepada kepolisian. [***]


Komentar Pembaca
AM Fatwa Sang Pejuang Sejati

AM Fatwa Sang Pejuang Sejati

KAMIS, 14 DESEMBER 2017 , 13:00:00

Pembacaan Sumpah Pemuda Secara Serentak

Pembacaan Sumpah Pemuda Secara Serentak

RABU, 13 DESEMBER 2017 , 11:00:00

Lawatan Rizal Ramli Di Maluku Utara

Lawatan Rizal Ramli Di Maluku Utara

SABTU, 02 DESEMBER 2017 , 17:00:00