Home
 
 
PENDIDIKAN

Palasostik Perjuangkan Masyarakat Desa Sungai Lisai Di TNKS
Jum'at, 14 April 2017 , 03:50:00 WIB
Desa Sungai Lisai, Lebong. Dok Palasostik
  
RMOL. Keberadaan masyarakat Desa Sungai Lisai yang berada di dalam Kawasan Taman Nasional Kerinci Sebelat, dimana secara administratif masuk dan berdekatan di Kecamatan Pinang Belapis Kabupaten Lebong Provinsi Bengkulu.

Dengan keberadaan Desa yang dihuni 72 Kepala Keluarga (KK) dipilih dan menjadi kajian keilmuan, penelitian dan pengabdian masyarakat, dimana hal itu tertuang dalam pelaksaan Tri Darma Perguruan Tinggi, bagi Mahasiswa Pecinta Alam Sosial Politik (PALASOSTIK) Universitas Bengkulu.

Desa yang terletak di kawasan Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS) saat ini tengah diperjuangkan oleh Palasostik demi mendapatkan hak - hak masyarakat desa Sungai Lisai dalam pengelolaan Hutan.

Hal ini dikatakan oleh Ketua Umum Palasostik, Edip Suyono, jika kegiatan yang akan digelar oleh Palasostik pada tanggal 27 April mendatang dalam bentuk Seminar Nasional, dengan mengundang langsung pihak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sebagai pemateri utama, dengan tema Hak Kelola Suku Madras di Taman Nasional Kerinci Sebelat.

"Kita prihatin, dengan keberadaan masyarakat yang ada disana, mereka itu posisinya dilematis, karena sudah kita kaji bersama, kawasan yang mereka diami itu adalah Taman Nasional. Kita berharap nantinya ada solusi yang dihasilkan agar masyarakat yang ada di Desa Sungai Lisai itu bisa mendapatan haknya," ujar Edip, Jumat (14/4/2017).

Kata Ketua Umum Palasostik, kegiatan ini merupakan sebuah agenda besar Palasostik yang telah berlangsung  sejak tahun 2014 dalam bentuk ekspedisi, penelitian dan melakukan penerapan-penerapan metode keilmuan pendampingan masyarakat dan kegiatan itu berlanjut hingga tahun 2016. Hal itu dilakukan guna memperkuat analisa perihal keberadaan masyarakat Desa Sungai Lisai yang telah mendiami kawasan TNKS sejak tahun 1963.

Lanjut Edip, Desa Sungai Lisai pada tahun 2009 secara administratif resmi diakui oleh pemerintah Kabupaten Lebong Provinsi Bengkulu. Ini dikuatkan dengan berdirinya beberapa fasilitas umum berupa sarana pendidikan dan sarana kesehatan.

"Mereka itu sudah lebih dulu mendiami di kawasan sebelum adanya penetapan TNKS oleh pihak pemerintah, kalau bertahan memang bertahan status mereka itu dan dalam pengelolaan hutan disana masih mengacu dengan sistem adat," ujarnya.

Untuk diketahui orang-orang yang mendiami Desa Sungai Lisai sendiri pada awalnya merupakan masyarakat Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi. Dari hasil ekspedisi tim Palasostik pada tahun 2014 lalu bahwa awal desa itu sebanyak 7 orang asal Kabupaten Merangin, melakukan pengembaraan guna mendapatkan lahan agar bisa bercocok tanam, lantaran diwilayah Merangin kala itu sudah sangat sempit. Keterangan itu didapatkan dari Hasan (70), salah seorang saksi hidup cikal bakal berdirinya Desa Sungai Lisai.

Untuk mencapai wilayah Desa Sungai Lisai yang berada di dalam kawasan TNKS harus menempuh perjalanan sekitar 4 jam dari desa terakhir, yaitu Desa Sebelat Ulu.  Meski demikian, masyarakat Desa Sungai LIsai cukup mandiri dilihat dengan adanya sumber penerangan yang dibuat oleh masyarakat menggunakan kincir air memanfaatkan sebuah sungai yang mereka beri nama Sungai Lisai.

"Mandiri sekali mereka kalau dari hasil ekspedisi kami dan mereka sama sekali tidak mengeluh," tandas Edip. [***]


Comments


 

Baca Juga

Jika Ahok Jadi Tersangka, Ini Skenario Pilgub Versi Gerindra
SMS Ahok: Umat Islam Halal Pilih Pemimpin Non Muslim
NasDem: Fahri Hamzah dan Fadli Zon Mencoreng Muka DPR!