Penerangan Desa Sinar Pagi, Hanya Mengandalkan Energi Matahari

Daerah  KAMIS, 24 NOVEMBER 2016 , 09:40:00 WIB | LAPORAN: YETTI RAHMADANI

Penerangan Desa Sinar Pagi, Hanya Mengandalkan Energi Matahari
RMOL. Bermukim di daerah terpencil, masyarakat Desa Sinar Pagi Kecamatan Seluma Utara Kabupaten Seluma, memgandalkan energi matahari dengan menggunakan panel listrik tenaga surya atau solar cell untuk memenuhi kebutuhan penerangan rumah maayarakat.

Penerangan yang berasal dari panel tenaga surya atau solar cell didapat masyarakat Desa Sinar Pagi dari adanya program nasional pemberdayaan masyarakat desa tertinggal pada tahun 2012 lalu dengan membangun pembangkit listrik dengan tenaga surya berkapasitas 1.500 KWH.

Dikatakan Kepala Desa (Kades) Sinar Pagi Tutik Hartika, panel tenaga surya yang dibangun pada tahun 2012 di Desa Sinar Pagi dengan kapasitas 1.500 KWH itu ditargetkan dapat memenuhi kebutuhan penerangan dirumah-rumah warga yang berjumlah 225 Kepala Keluarga (KK), namun karena keterbatasan dan jauhnya jarak tempat berdirinya panel tenaga surya dengan rumah masyarakat yang mencapai 8 kilometer membuat penerangan hanya dapat dinikmati 101 KK dan 3 fasilitas umum masjid, balai desa dan balai desa.

"Panel tenaga surya ini hanya dinikmati 101 KK saja dari 225 KK yang ada di Desa Sinar Pagi, itu disebabkan karena desa induk Sinar Pagi ini memiliki 4 dusun yang jarak tempuhnya mencapai 8 kilometer, jadi tidak memungkinkan untuk menarik kabelnya sepanjang itu," kata Tutik Hartika kepada RMOL Bengkulu.

Menurutnya, untuk memenuhi kebutuhan penerangan juga selain terkendala jarak tempuh, lokasi tidak memungkinkan karena harus melewati perkebunan warga dan melintasi sungai-sungai dengan kondisi yang masih perbukitan.

Namun penerangan dapat dinikmati masyarakat dengan batasan waktu, karena setiap rumah tangga hanya mendapat jatah kapasitas 250 watt. Dari kapasitas 250 watt tersebut masyarakat biaya perawatan, dimana pada awalnya disepakati setiap bulannya per KK membayar Rp 20.000, tetapi berjalannya waktu maayarakat mengeluhkan ketidaksanggupan membayar biaya perawatan sesuai kesepakatan awal hingga diturunkan menjadi Rp 7.500 per KK.

"Penerangan disetiap rumah mendapat kapasitas 250 watt, jadi untuk penggunaan itu tergantung dari pemakian dan kebutuhan setiap rumah tangga tidak ada batasan waktu, dengan 250 watt warga dibebankan awalnya Rp 20.000 namun kini dibayar Rp 7.500 per rumah tangga, biaya tersebut untuk biaya perawatan," ungkapnya.

Akan tetapi dari 3 panel tenaga surya yang dimiliki Desa Sinar Pagi, saat ini hanya 2 panel yang berfungsi, karena 1 panel pada tahun 2015 mengalami kebakaran yang diakibatkan oleh kelebihan beban penggunaan pada rumah tangga. Sehingga saat ini dari 2 panel yang masih berfungsi hanya mengjasilkan 10.000 kapasitas KWH.

"Akibat kelebihan beban 3 panel tenaga surya yang ada terbakar 1, kini hanya 2 panel yang berfungsi dengan menghasilkan 10.000 KWH," terang Tutik.

Pembangunan panel tenaga surya tersebut, diungkapkan Kades Tutik Hartika, memakan waktu 2 bulan karena beratnya medan untuk melakukan pengangkutan material, sebab pengangkutan material dari desa terdekat berjarak 30 kilometer menuju Desa Sinar Pagi dengan berjalan kaki mencapai waktu 3 jam dengan melewati sungai dan perbukitan yang terjal.[Y21]



Komentar Pembaca
BENANG MERAH (EPS.170): Lingkaran Korup Jokowi-Maruf
Prabowo-Sandi Incar Golput

Prabowo-Sandi Incar Golput

KAMIS, 21 MARET 2019 , 19:00:00

#KataRakyat: DPT Bikin Bete!

#KataRakyat: DPT Bikin Bete!

RABU, 20 MARET 2019 , 21:00:00